"Sudah sepekan terakhir ini peselancar jarang ke sini. Menjelang akhir tahun memang sebetulnya seperti ini, tapi kali ini penurunannya drastis sekali, cuma empat peselancar hari ini," kata I Ketut Redeg, warga Banjar Buana Sari, Kuta Selatan, Bali, Senin.
Lelaki yang telah puluhan tahun mencari rezeki dari para peselancar ini mengaku, kenyataan itu sangat mengganggu perekonomian keluarganya. Kafe sederhananya di tepi Pantai Bingin, Bali itu juga telah bermalam-malam tanpa pengunjung.
Redeg dalam keseharian menyewakan papan selancar kepada para turis yang kebanyakan adalah turis mancanegara. Papan aneka jenis dan ukuran itu juga memiliki harga sewa beragam, antara lima hingga 15 dolar AS sehari.
Dia menyatakan, hingga awal November lalu, kunjungan peselancar ke pantai yang menjadi salah satu favorit para peselancar dunia itu masih ramai. "Saya bisa membawa pulang 60 dolar sehari, karena banyak juga saudara dan teman di sini yang punya usaha sejenis," katanya.
Gelombang tinggi di pantai-pantai di Bali menyebabkan pihak pemegang otoritas keselamatan di pantai mengingatkan para turis untuk waspada. Ketinggian gelombang laut di atas normal, yaitu sekitar dua meter dan bisa membahayakan manusia yang bermain-main di bibir pantai.
Di Pantai Kuta, peringatan sama dikeluarkan oleh Balawista setempat, yang menambah jumlah petugasnya di berbagai lokasi pengamatan. Mereka juga semakin sering "berpatroli" untuk mencegah hal-hal negatif yang membahayakan pengunjung.
Sementara itu, di Pantai Suluban, yang juga menjadi lokasi kegemaran peselancar di bagian selatan Bali dan menghadap langsung ke Samudera Hindia, gelombang laut itu bahkan mencapai lebih dari ketinggian orang.
"Tumben sekali seperti ini, biasanya tidak sampai seperti ini. Kalau tidak diawasi, orang-orang bisa terseret karena kemiringan pantai ini curam sekali dan karang-karangnya besar-besar," kata Ni Wayan Sulastri, salah satu pemilik warung makan di sana.
Seorang peselancar asal Belgia, Marc van Hoften, menyatakan kekecewaannya karena tidak bisa mencicipi keasikan berselancar di Bali.
"Jauh-jauh saya datang cuma untuk batal berselancar. Mungkin saya harus menambah hari liburan agar bisa menikmati berselancar di sini," katanya di Pantai Bingin itu.
Dia menyatakan, informasi tentang keindahan dan kedahsyatan gelombang Pantai Bingin, Pantai Suluban, dan Pantai Padang-padang, di Bali, yang berada dalam satu garis pantai itu dari temannya sesama peselancar dari Australia. Seluruh pantai itu mampu memberi punncak-puncak gelombang secara sinambung dalam jarak sekitar tiga kilometer.
"Kalau untuk berkendara mobil, jarak segitu dekat saja. Lain halnya kalau kita berada di puncak gelombang itu dalam selancar. Nikmat sekali dan sulit untuk mewujudkannya. Itulah tantangannya," katanya. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.