"Kejadian seperti itu bukan yang pertama kalinya. Mereka mencekik, memukul, dan menendang di depan anak-anak, beginikah cara TNI mendidik generasi muda?. Satu jurnalis dianiaya, seribu jurnalis bergerak melawan kesewenang-wenangan aparat," kata Johannes P. Cristo, koordinator aksi, ketika berorasi di depan Pangkalan Udara (Lanud) Ngurah Rai, di kawasan Tuban, Kuta, Kabupaten Badung, Rabu.
Para jurnalis yang berasal dari media elektonik, cetak, dan online tersebut mendatangi Lanud Ngurah Rai sekitar pukul 10.00 Wita dengan membawa beberapa spanduk yang bertuliskan kecaman terhadap penganiayaan wartawan dan menghentikan arogansi aparat TNI.
Selain menuntut stop kekerasan terhadap jurnalis, solidaritas jurnalis itu juga menuntut agar Kepala Staf Angkatan Udara dicopot dari jabatannya sebagai pemangku kebijakan TNI AU, mencopot Komandan Pangkalan Udara Riau, memecat dan mengadili oknum perwira TNI yang melakukan penganiayaan, dan meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menertibkan aparatnya yang berbuat anarkis.
Dalam aksi itu, mereka juga menanggalkan kartu pers, dan atribut perlengkapan peliputan seperti kamera sebagai bentuk kekecewaan.
Aksi unjuk rasa damai itu diterima Komandan Pangkalan Udara Ngurah Rai, Letkol Penerbang Atang Sudrajat.
"Kami mewakili Lanud menyesalkan tindakan yang telah dilakukan seperti fakta di lapangan," katanya kepada wartawan.(DWA)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.