"Orang jika tidak miskin itu lebih berani, semakin pemberani. Orang kalau sudah masuk kelas menengah jiwanya lebih independen karena merasa mampu menghidupi dirinya sendiri dan tidak tergantung pada orang lain," katanya saat menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-50 Universitas Udayana, di Jimbaran, Kuta, Badung, Sabtu.
Menurut dia, dengan modal jumlah kelompok 136 juta itu dengan ciri-ciri keinginan serba cepat, berbicara vokal serta ingin menyelesaikan masalah dengan cepat merupakan modal yang luar biasa bagi negara ini untuk naik kelas menjadi negara maju.
Sayangnya, kata dia, kecepatan dari kelompok masyarakat ini tidak diimbangi dengan kemampuan birokrasi. "Birokrasi kita serba lambat. Jadi tidak ketemu, ada 136 juta orang yang mau serba cepat, namun birokrasinya serba lambat. Persoalan ini dalam lima tahun ke depan harus segera diselesaikan," ujarnya.
Dahlan menambahkan, jika tidak segera diselesaikan, maka akan terjadi bentrokan antara keinginan dan kenyataan. Efeknya sekarang sudah dirasakan bangsa Indonesia dan akan menjadi lebih berat lagi jika didiamkan.
Modal besaran penduduk untuk menjadi negara maju, kata dia, sudah sangat cukup, tinggal hambatannya saja yang harus dihilangkan. Sedangkan untuk mengambil langkah mundur, itu sudah tentu tidak memungkinkan.
Diakuinya untuk mereformasi birokrasi memang tidak gampang. "Banyak persoalan birokrasi di Indonesia bukan masalah bisa tidak bisa, tetapi mau atau tidak mau. Sesungguhnya begitu mau, pasti bisa," kata Dahlan.(LHS/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.