"Jika saja tidak ada stigma dan diskriminasi, yang tadinya mereka sembunyi, nanti pasti akan keluar dan lebih mudah untuk bisa menekan kasus baru HIV/AIDS," kata Ketua Kelompok Kerja Promosi Pencegahan dan Hubungan Masyarakat pada Komisi Penanggulangan AIDS (P2HM KPA) Provinsi Bali, Prof Dr dr Mangku Karmaya, dalam diskusi panel perkembangan kasus HIV/AIDS pada hari terakhir Lokakarya HIV diikuti insan pers di Sanur, Denpasar, Minggu.
Menurut dia, stigma dan diskriminasi merupakan suatu kondisi yang berlawanan serta tidak produktif dalam upaya mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit yang belum ditemukan obatnya itu.
Sementara itu HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI) Australian AID, Danny Yatim, mengatakan bahwa virus penyakit dengan gejala yang baru muncul bertahun-tahun atau bahkan 20 tahun itu tidak tertular melalui beberapa kegiatan di antaranya berbagi makan dan minum, berciuman, berdekatan, berjabat tangan, bersentuhan, digigit nyamuk, kamar mandi, keringat, hingga penggunaan kolam renang bersama.
"Hingga saat ini belum ada pembuktian mengenai adanya penyebaran virus HIV melalui media itu," katanya.
Sementara penularan HIV bisa tertular melalui pertukaran cairan tubuh di antaranya darah, air susu ibu, air mani, dan cairan vagina. Sedangkan dalam bentuk perilaku, penularan terjadi pada hubungan seks, transfusi darah, hubungan ibu ke janin, dan penggunaan jarum suntik yang dipakai orang lain.(DWA/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.