Denpasar (Antara Bali) - Provinsi Bali hingga tahun 2012 masih mengimpor daging sapi untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu di antaranya hotel berbintang, restoran, dan kebutuhan industri pengolahan daging.
     
"Bali tidak bisa mengelak masuknya daging impor dalam rangka untuk mengisi kebutuhan industri dan hotel berbintang," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, I Putu Sumantra, usai mengikuti sebuah seminar mengenai peningkatan produksi dan kualitas daging sapi Bali di Universitas Udayana, Denpasar, Jumat.
     
Dia menjelaskan bahwa untuk pengolahan daging seperti produk sosis dan kornet misalnya diperlukan daging sapi dengan kadar lemak tinggi hingga 20 persen. Sedangkan daging sapi Bali hanya memiliki kadar lemak dibawah sepuluh persen.
     
Ia mengatakan dari 8.000 ton kebutuhan saging sapi di Pulau Dewata per tahun untuk hotel, restoran, dan konsumsi masyarakat, 1.000 hingga 1.500 ton merupakan daging sapi impor yang didatangkan dari Australia dan Selandia Baru.
    
Tahun 2012, lanjut Sumantra, Bali mengeluarkan sapi potong hidup ke beberapa daerah di Tanah Air dengan kuota sebesar 75 ribu ekor atau setara dengan 12 ribu ton.
     
Sementara itu berdasarkan sensus cacah jiwa tahun 2011 populasi sapi Bali mencapai 637.743 ekor, sedangkan untuk pendataan sapi lokal tahun ini akan dilakukan mulai September hingga Desember 2012.(DWA/T007)



Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026