Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa pagi bergerak melemah 10 poin menjadi Rp9.510 dibanding posisi sebelumnya Rp9.500 per dolar AS.
Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada di Jakarta, Selasa mengatakan, investor masih menempatkan dananya dalam bentuk dolar AS untuk menjaga nilai aset seiring belum adanya kepastian penanganan krisis utang di Eropa.
"Kebijakan penanganan krisis utang di Eropa masih ditunggu pasar. Yunani dikabarkan tengah meminta pelonggaran waktu pengetatan fiskal yang akan diputuskan September," kata Reza Priyambada.
Meski demikian, kata dia, nilai tukar rupiah masih ada ruang penguatan seiring dengan merebaknya harapan atau ekspektasi pelonggaran moneter oleh Bank Sentral AS atau Federal Reserve.
"Pelaku pasar mengekspektasikan AS akan melakukan pelonggaran kuantitatif, kondisi itu akan mengikis dolar AS," kata dia.
Sementara itu, Research and Analysis Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan, ekspektasi kemungkinan akan dikeluarkannya kebijakan pelonggaran kuantitatif dapat membuat dolar AS melemah terhadap mata uang utama dunia dan komoditi serta mengangkat bursa saham.
"Jadi rencana kebijakan pelonggaran kuantitatif bukan lagi persoalan apakah akan diadakan atau tidak, tapi kapan akan dikeluarkan," kata Ariston Tjendra.(*/T007)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.