Denpasar (Antara Bali) - Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof Dr I Wayan Dibia menilai, kehidupan masyarakat di berbagai pelosok nusantara yang rukun dan damai belakangan semakin terusik dan terganggu akibat berbagai ketegangan.

"Masyarakat yang semula hidup dalam suasana persaudaraan yang harmonis, tiba-tiba bertikai dan bermusuhan akibat hilangnya rasa persaudaraan," kata Prof Dibia di Denpasar, Senin.

Mantan rektor ISI itu mengatakan, kondisinya semakin ironis lagi, fenomena sosial seperti itu banyak muncul di daerah-daerah yang warganya selama ini dikenal santun, memiliki toleransi dan solidaritas tinggi serta taat menjalankan ajaran agama.

Berbagai gejolak sosial seperti itu di banyak tempat belakangan ini, merupakan suatu indikasi terjadinya pengingkaran terhadap apa yang disebut masyarakat Bali "Paras-Paros", yakni semangat kebersamaan dan persatuan yang penuh rasa persaudaraan.

Prof Dibia menjelaskan, belakangan ini muncul orang-orang atau kelompok tanpa mempedulikan kepentingan orang lain dan kondisi seperti itu menjadi salah satu ciri zaman "kali yoga" atau zaman kehancuran.(IGT)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026