Buleleng (ANTARA) - Selalu ada jalan untuk bisa bersama-sama di tengah keyakinan yang berbeda. Setidaknya kalimat bijak ini betul terasa adanya melalui tradisi di Bali, bernama Ngejot. 

Tradisi ini salah satunya lestari di Desa Pegayaman, lokasi terdapatnya kampung muslim tertua di Bali yang ada di Kabupaten Buleleng.

“Di Pegayaman itu ada yang namanya Tradisi Ngejot. Ngejot itu berlaku di intern dan eksteren. Ketika ngejot itu berlaku, ibarat Bahasa islamnya itu shodaqohan, diantara teman, di antara sahabat Hindu itu Namanya Ngejot. Biasanya juga yang Ngejot itu di antara sahabat-sahabat yang biasa sering ketemu, sering bekerja sama, baik itu di dalam pertanian, dalam perdagangan dan lain sebagainya,” ujar Ketut Muhammad Soeharto, Aktivis Desa Adat Pegayaman.

Tradisi ini dilakukan secara timbal balik pada momen keagamaan masing-masing, umat Islam membagikan makanan saat Hari Raya Idul Fitri dan Maulid Nabi, sedangkan umat Hindu membagikan makanan saat Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Makanan yang dibagikan berupa hidangan matang khas, kue tradisional, buah-buahan, hingga masakan olahan daging. 

“Kalau di Desa Pegayaman, ciri khasnya yaitu membawa penarak isi cupir di atasnya. Kemudian kalau pakai talam itu ada saab di atasnya. Biasanya terbuat dari daun lontar,” ungkap Ketut Muhammad.

Sebagai sebuah tradisi, kegiatan ini menjadi medium utama untuk merawat silaturahmi, persaudaraan, dan kerukunan antarumat beragama di kampung muslim tertua di Bali ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan kebiasaan ini memiliki nilai pengikat persaudaraan yang tinggi antarwarga tanpa memandang latar belakang kepercayaan.

“Semua itu membentuk satu ikatan-ikatan menyama braya yang sangat luar biasa dan disanalah terjadi tradisi ngejot itu berlaku,” tegasnya.

Selain berbagi makanan, warga juga melaksanakan kegiatan penapean atau pembuatan tape dan penampahan atau penyembelihan hewan sebagai bagian dari rangkaian perayaan. 

Terkait pelaksanaannya, Ketut Muhammad menjelaskan persamaan dan perbedaannya dengan kebiasaan yang dilakukan umat Hindu.

“Persamaan itu di proses dalam pembuatan tape, perbedaannya hanya masalah bahan, kalau disini apa yang di pakai di Nyama Hindu, yang di muslim dilarang maka sebaliknya. Dan peruntukannya jajan yang dibuat kalau di pegayaman itu untuk dinikmati bukan untuk sesajen,” jelasnya.

Adapun nilai yang terkandung dalam tradisi ini juga memiliki persamaan dengan kebiasaan masyarakat Hindu saat Galungan, meskipun ada perbedaan dalam tata cara pelaksanaannya.

“Bedanya di Proses, kalau di bali itu kan ada penampahan satu hari sebelum Galungan. Kalau di Pegayaman terutama di peringatan Maulid Nabi, perayaannya itu central pusatnya di rumah penghulu desa. Di sana pusat kegiatan memasaknya, dari motong sapi,hingga proses memasak,” ucapnya.

Bagi warga Desa Pegayaman, tradisi seperti Ngejot, penapean, maupun penampahan bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sarana mempererat persaudaraan antarwarga dan antarumat beragama.

“Jadi kita memanfaatkan momentum daripada hari raya itu untuk mempererat persatuan tanpa batas,” pungkas Ketut Soeharto.

 



Pewarta: Tim Redaksi Antara Bali
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026