Hingga Rabu pukul 01.30 WIB antrean kendaraan di jalan raya menuju Pelabuhan Ketapang diperkirakan mencapai delapan kilometer. Bahkan sejak pukul 00.30 WIB kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali akibat penutupan pelabuhan penyeberangan itu setelah cuaca di perairan Selat Bali terus memburuk.
Berdasarkan pemantauan ANTARA di ruas jalur Situbondo-Ketapang banyak kendaraan, terutama bus pariwisata, yang memilih menepi sambil menunggu kepastian jalur penyeberangan Jawa-Bali dibuka.
Berbeda dengan bus-bus yang melayani penumpang Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP) yang memilih tetap berada di jalurnya, meskipun tidak mendapat kepastian, kapan jalur penyeberangan dibuka.
Sopir bus AKAP hanya bisa pasrah menunggu cuaca di Selat Bali kondusif. "Jam segini biasanya sudah mau masuk Negara (ibu kota Kabupaten Jembrana, Bali)," kata sopir bus Restu Mulya jurusan Malang-Denpasar ditemui di Jalan Raya Glagah, Kabupaten Banyuwangi, sekitar pukul 01.30 WIB.
Ia mengaku mendengar informasi penutupan Pelabuhan Ketapang-Pelabuhan Gilimanuk itu sejak bus yang dikemudikannya melintasi kawasan Besuki, Kabupaten Situbondo.
"Kalau macet karena ada kecelakaan lalu lintas, masih bisa lewat jalur alternatif. Tapi, ini macet karena pelabuhan penyeberangan ditutup sehingga tidak ada pilihan lain," katanya.(M038/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.