Oleh I Ketut Sutika

Sekelompok wanita bule tampil berbinar mengenakan busana tari bergerak lincah di atas panggung, mengikuti irama gamelan, instrumen musik tradisional Bali yang mengiringinya.

Olah gerak tubuh yang disertai ekspresi jiwa itu menyuguhkan keindahan dan keagungan yang serasi dengan busana tari Bali yang dikenakan, sehingga sulit membedakan, jika penarinya itu adalah warga negara asing.

Itulah penampilan Cheiko (21), seorang mahasiswa dari ratusan mahasiswa warga negara asing yang tertarik mempelajari tabuh dan tari Bali di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Wanita bermata sipit itu mendapat darmasiswa (beasiswa) dari Pemerintah Indonesia untuk menekuni tabuh dan tari Bali selama dua tahun.

Ceiko merupakan salah satu dari puluhan mahasiswa asing yang mendapat kepercayaan untuk memperkuat tim ISI Denpasar mengadakan pementasan seni, melengkapi kegiatan ritual berskala besar di Pura Besakih, tempat suci terbesar umat Hindu di Bali beberapa waktu lalu.

Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S. MA sejak awal melibatkan mahasiswa mancanegara yang sedang mempelajari tabuh dan tari Bali untuk pentas secara tulus ikhlas (ngayah) di tengah-tengah kehidupan masyarakat Bali.

Bahkan saat berlangsung kegiatan ritual bersama besar, Panca Bali Krama di Pura Besakih mahasiswa asing ikut ambil bagian maupun di berbagai pura dalam lingkungan desa adat di Pulau Dewata.

Kegairahan orang asing, khususnya mahasiswa ISI untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan "Ngayah" di berbagai tempat di Bali itu perlu menjadi cermin bagi orang Bali untuk instrospeksi diri dan motivasi untuk kemajuan Bali ke depan.

Satu-satunya lembaga pendidikan tinggi seni di Bali itu lebih mengintensifkan kegiatan "ngayah"  salah satu bentuk pengabdian masyarakat, pendidikan dan penelitian saat masyarakat menggelar kegiatan ritual berskala besar yang melibatkan seluruh warga desa adat.

Kegiatan "ngayah" dilakukan secara berkesinambungan, memenuhi keinginan dan harapan masyarakat, karena jauh sebelumnya pengurus (prajuru) bendesa adat sudah mengajukan permohonan agar ISI bisa berperanserta melengkapi kegiatan ritual itu dengan menampilkan kesenian.

Dosen dan mahasiswa, termasuk warga negara asing berkolaborasi dengan seniman setempat, sehingga penampilannya tidak hanya melengkapi kegiatan ritual, namun mampu menyuguhkan sebuah hiburan yang bermutu dan menarik.

"Pola ngayah" menurut Prof Dr I Wayan Rai yang diterapkan selama ini dalam bidang pengabdian masyarakat menjadi inspirasi bagi Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggagas komunitas "ngayah" sebagai bentuk pengabdian lembaga pendidikan tinggi kepada masyarakat.

Komunitas tersebut melibatkan  Universitas Maha Saraswati, Universitas Udayana, dan Undiksa Singaraja, masing-masing melakukan penelitian dan pengkajian sesuai bidang ilmu yang digeluti.

Mahasiswa dari berbagai negara di belahan dunia semakin tertarik mengikuti proses belajar mengajar di ISI Denpasar, dengan menekankan pada keterampilan tabuh dan tari Bali, disamping seni lukis maupun seni fotografi.

Dari 35 negara

ISI Denpasar merupakan cikal bakal dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), yang kemudian berubah status menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan sekarang menjadi ISI, memiliki potensi besar  dalam pengembangan serta pelestarian tabuh, tari dan budaya Bali.

Potensi tersebut menjadi modal dan kekuatan untuk memenangkan setiap persaingan yang semakin ketat di era global. ISI Denpasar selama ini banyak menerima mahasiswa dari berbagai negara di dunia.

Pembantu Rektor IV ISI Denpasar, I Wayan Suweca ketika menerima  12 mahasiswa dari University of Western Australia (UWA)  didampingi Prof Dr Paul Trinidad untuk  belajar seni budaya, termasuk tabuh dan tari Bali, pihaknya selama ini menerima mahasiswa dari 35 negara di belahan dunia.

Mahasiswa asing dalam menekuni seni budaya Bali umumnya menggunakan beasiswa yang disediakan pemerintah Indonesia, negara bersangkutan maupun secara pribadi.

ISI Denpasar di luar program beasiswa itu masih sering menerima mahasiswa asing untuk mendalami tabuh dari tari Bali yang dikirim oleh perguruan tinggi mancanegara, baik secara rombongan maupun perorangan yang sebelumnya telah menjalin kerja sama.

Lembaga pendidikan tinggi seni itu telah memiliki jaringan internasional dan kerja sama dengan sekitar 35 perguruan tinggi lintas negara, sebagai upaya menjadikan  ISI Denpasar "go internasional",

Hingga saat itu  pernah mendidik sekitar 573  mahasiswa warga negara asing berasal dari 35 negara  selama kurun waktu 14 tahun, periode 1998-2012.

Mahasiswa asing itu 207 orang atau hampir separuh di antaranya  berasal dari Jepang, sisanya berasal dari  Polandia,  Hungaria, Amerika Serikat Aprika Selatan, Slovakia, Spanyol, Argentina, Australia, Bangladesh, Belgia, Ceko, Serbia Montenegro, Ukraina, Venezuela, Yunani, Madagaskar, Uzbekistan, Brazil dan China.

Mereka mengikuti proses belajar mengajar di fakultas di lingkungan lembaga pendidikan tinggi seni di Pulau Dewata, namun yang paling banyak memilih  fakultas seni pertunjukan, baik tabuh maupun tari Bali.

Mahasiswa mancanegara itu belajar selama dua hingga empat semester, umumnya hal itu secara berkesinambungan, karena ada yang tamat dan ada pula yang baru memulai kuliah.

Mahasiswa mancanegara yang kuliah di ISI Denpasar  umumnya sudah menguasai berbagai jenis tari maupun memainkan instrumen gamelan Bali.

Dengan bekal keahlian dan kemampuan tari Bali itu, mereka kembali ke negaranya, yang selanjutnya mengembangkan kolaborasi tari dan gamelan Bali dengan musik  berhaluan barat.

Sebagian alumnus lainnya membuka kursus dan mengajar tari Bali kepada masyarakat di negara asalnyanya. Kondisi demikian berdampak positif terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali di mancanegara, ujar Wayan Suweca.(IGT/T007)


Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026