"Dari sisi pariwisata, jelas akan menjadi promosi yang bukan main karena masuk dalam daftar WBD, website lembaga pendidikan dan kebudayaan dunia (Unesco) dan sebagainya. Ini merupakan promosi yang luar biasa. Kebersihan dan penataannya harus terus dilanjutkan agar kemudian tidak menjadi arena berjualan para pedagang," katanya di Mangupura, Sempidi, Selasa.
Bupati Gde Agung yang sekaligus tokoh Puri Mengwi itu menyampaikan, sebenarnya penataan dan menjaga kelestarian Taman Ayun sudah berjalan terus walaupun masuk atau tidak dalam Warisan Budaya Dunia.
"Seperti wantilan Pura Taman Ayun, kami kembalikan pada bentuk semula, memakai kayu bahannnya, beratap alang-alang. Demikian juga dengan penataan para pedagang ," ujarnya.
Pura Taman Ayun sendiri, lanjut dia, bersifat multi fungsi, tidak hanya sebagai penyangga subak, juga mengandung makna sosial religius. Masyarakat sudah bersembahyang di sana sejak abad ke-17.
"Sekaligus sebagai alat pemersatu, masyarakat dari semua klan bersembahyang di situ dari semua daerah," ucapnya.(LHS/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.