"Patut kami luruskan, Omed Omedan ini bukanlah tradisi ciuman massal. Omed dalam bahasa Bali artinya tarik, sehingga omed-omedan itu sesungguhnya bermakna saling tarik-menarik," kata tokoh adat Banjar Kaja I Gusti Ngurah Oka Putra, di Denpasar, Sabtu.
Menurut dia, oleh masyarakat awam terkesan saling berciuman karena antartangan peserta saling tarik bisa menyebabkan terkilir, sehingga dalam praktiknya terjadilah saling berangkulan.
"Saat berangkulan atau berpelukan itulah terkadang bisa terjadi gesekan antarpipi peserta karena mereka sama-sama dipanggul dan didorong oleh peserta lainnya," ucapnya yang tokoh Puri Oka itu.
Dalam Omed Omedan kali inipun terlihat seorang pemudi yang masih lajang dari banjar setempat dipilih secara acak lalu dipanggul beramai-ramai tepat di depan balai banjar yang berlokasi di sisi tengah Jalan Raya Sesetan Denpasar.
Kemudian dari arah berlawanan juga dipanggul seorang pemuda lajang hingga keduanya bertemu dan terjadinya aksi tarik-menarik dan berangkulan. Bahkan sesekali sampai "mendarat" sebuah ciuman. Demikian terjadi silih berganti.
Sementara itu, Ketua Sekaa Teruna Teruni (pemuda-pemudi) Banjar Kaja, Sesetan, Gede Bayu Surya Parwita mengatakan, tujuan penyelenggaraan Omed Omedan untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan antara generasi muda banjar setempat.(LHS/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026