Oleh IGK Agung Wijaya

Denpasar (Antara Bali) - Program penanggulangan rabies yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Provinsi Bali selama 2011 memperoleh hasil yang cukup memuaskan, dengan cara vaksinasi massal pada anjing dalam beberapa tahapan.

Program vaksinasi massal yang diterapkan ternyata cukup efektif menekan kasus penyebaran rabies di Pulau Dewata, terbukti dari sekitar 260 desa yang sebelumnya dinyatakan tertular rabies, kini tinggal 44 desa.      

Kepala Dinas Peternakan Povinsi Bali I Putu Sumantra mengatakan, namun program itu efektif jika cakupan vaksinasi itu mencapai 70 persen dari estimasi populasi anjing yang ada di Pulau Dewata.

Dia menjelaskan, untuk itu pihaknya melakukan vaksinasi secara sistematis supaya bisa mencapai target minimal sebesar 70 persen.

Menurut Sumantra, karena dengan memvaksin sesuai dengan target minimal itu dapat mencegah penyebaran, sebab terbentuk penghalang melalui kekebalan kelompok salah satu hewan penyebar penyakit anjing gila itu.

"Selain mencegah penyebaran, vaksinasi juga efektif untuk menurunkan kasus korban meninggal pada manusia karena rabies," ujarnya.

Hal tersebut terbukti dengan menurunnya kasus korban meninggal pada manusia berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Berdasarkan data itu selama 2011 hanya terjadi 17 kasus, sedangkan 2010 terjadi 182 kasus.

Selain itu, tambah dia, terjadi penurunan kasus positif virus rabies di hewan penular penyakit itu. Tercatat rata-rata per bulan hanya tiga-empat kasus, sedangkan tahun lalu setiap bulan sebanyak 14 kasus.  

Sementara itu, menurut dr Agung Putu Joni Wahyu, Master Planner FAO, dipilihnya vaksinasi pada anjing sebagai cara pengendalian penyebaran rabies di Bali karena lebih efisien dan hemat dari pada pengobatan.

"Vaksinasi massal itu adalah cara pencegahan penyebaran dengan cara membentuk imunitas kelompok hewan yang bisa menjadi penghalang supaya tidak menimbulkan kasus baru," katanya.

Dia menjelaskan, untuk membentuk kelompok yang memiliki kekebalan itu minimal di satu kawasan harus sudah divaksin sekitar 70 persen dari populasi yang ada.

Dengan membentuk kelompok yang memiliki kekebalan, tambah Agung, jika ada anjing yang mengidap rabies kemudian menggigit anjing yang memiliki kekebalan maka tidak akan berpengaruh.

Sebab anjing yang digigit itu tidak akan tertular dan tentunya penyebaran rabies pun terputus.     

                    Kontrol populasi

Kepala Dinas Peternakan Bali menambahkan, vaksinasi massal itu adalah bagian dari sistem penanggulangan penyakit rabies yang lebih baik itu untuk mewujudkan Pulau Dewata bebas rabies.

Akan tetapi upaya penangulangan itu harus diimbangi dengan usaha mengontrol atau mengatur jumlah populasi anjing menjadi salah satu upaya mencegah meluasnya penyebaran virus rabies.

"Jika populasi anjing dapat dikontrol, upaya vaksinasi rabies pada anjing dapat berjalan lebih baik lagi karena belum tentu vaksin dapat menjangkau keseluruhan populasi," ucap I Putu Sumantra.

Menurut dia, populasi anjing di Bali sangat banyak. Pihaknya memprediksi total populasi anjing di Pulau Dewata sekitar 300.405 ekor.

Dari populasi yang ada itu, banyak juga yang dipelihara dengan tidak baik dan dibiarkan berkeliaran bebas.

Kalau populasi dibiarkan begitu saja berkembang, maka jumlah anjing akan terus bertambah. Hal ini menjadi semakin menyulitkan upaya vaksinasi, katanya.

Cara mengontrol populasinya, ujar Sumantra, dengan mensterilkan anjing-anjing yang tidak diinginkan untuk menghasilkan keturunan. Sterilisasi pada induk anjing betina dapat dilakukan secara mekanik dengan tidak mengaktifkan sel telur pada anjing tersebut.
    
                    Target 2012      
Dinas Peternakan Provinsi Bali merasa optimis jika pada akhir 2012 di seluruh kawasan tujuan wisata internasional itu akan nihil dari kasus penyakit rabies.

"Rasa optimis itu muncul sejak melihat hasil vaksinasi anjing tahap pertama yang menyisakan 44 desa yang masih terinfeksi rabies dari sebelumnya berjumlah ratusan," kata Sumantra.

Dia mengatakan, pada vaksinasi tahap dua yang dilakukan sejak Mei 2011, pihaknya merancang sistem supaya hasilnya lebih baik dibandingkan tahap pertama.

Menurut Sumantra, sistem yang digunakan pada tahap kedua dinilai lebih baik dari tahap pertama dalam mengontrol rabies, bahkan sistem tersebut akan diterapkan di provinsi lain yang masih terserang rabies.

Setelah vaksinasi tahap kedua, akan dilakukan vaksinasi tahap ketiga yang dilakukan pada awal 2012. Vaksinasi tersebut akan menuntaskan dan membuat Bali nihil dari kasus rabies.    

Menurut dia, wilayah Pulau Dewata bisa terbebas dari kasus rabies jika seluruh pihak dan masyarakat mau mewujudkannya dengan menyukseskan program pemberantasan penyakit tersebut.(IGT)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026