Oleh I Ketut Sutika

Denpasar (Antara Bali) - Beraneka jenis pepohonan tumbuh subur di kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali di atas hamparan kawasan hutan bakau seluas  1.343,5 hektare.

Kawasan menghijau sepanjang jalan arteri Sanur-Nusa Dua itu  adalah proyek percontohan hutan bakau, kerja sama antara Kementerian  Kehutanan dengan Badan Kerja sama Internasional Jepang atau Japan International Cooperation Agency (JICA).

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di sela-sela mendampingi kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali menyempatkan diri melihat dari dekat kondisi hutan bakau tersebut itu Sabtu.

Pengembangan kawasan hutan bakau (mangrove) tersebut dinilai cukup berhasil menghijaukan pesisir pantai Bali dan menangkal abrasi pantai, di samping menjadi "paru-paru" kota Denpasar.

Sepanjang pantai yang ditumbuhi pohon bakau itu, kini kondisinya tetap utuh, berbeda dengan sejumlah pantai lainnya di Bali yang terus terkikis akibat terjangan ombak yang dahsyat.

Hutan bakau selain mampu mencegah abrasi dan tsunami, juga dapat menghambat proses intrusi air laut ke daratan Bali.

Menteri Zulkifli Hasan menilai, kawasan hutan bakau Taman Hutan Raya Ngurah Rai sangat rimbun, subur dan lestari sangat tepat dijadikan proyek percontohan di Indonesia. Masyarakat dan pemerintah setempat diminta agar tetap menjaga dan mempertahankan kawasan  tersebut agar tetap lestari.

"Semua elemen masyarakat harus menjaga dan melestarikan hutan ini, demi kelangsungan alam ini. Fungsi hutan bakau banyak sekali di antaranya mencegah abrasi termasuk juga mitigasi dan penangkal tsunami," tutur Menteri Zulkifli Hasan.

Indonesia memiliki kawasan hutan bakau seluas  7,7 juta hektare yang terdiri kondisi baik yang yang ada di Bali hanya  2,4 juta haktare (30,7 persen),  kondisi rusak seluas 3,2 juta hektare (41,9 persen) dan kondisi sedang  2,1 juta hektare atau 27,4 persen.

Kementerian Kehutanan mempunyai konsepsi pengelolaan dan rehabilitasi  hutan mangrove secara bijaksana dengan pemanfaatan sesuai dengan daya dukungnya serta mengkonservasi yang masih baik dan merehabilitasi yang rusak.

Selain itu pengelolaan hutan bakau yang berada di luar kawasan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat (LSM )maupun masyarakat.

"Strategi Nasional Pengelolaan ekosistem mangrove telah selesai disusun secara bersama yang melibatkan berbagai pihak, baik akademisi, pakar maupun masyarakat pemerhati hutan bakau di Indonesia," tutur Menhut Zulkifli Hasan.

    
Pusat studi banding

Berkat keberhasilan Bali dalam mengembangkan kawasan hutan bakau di  Taman Hutan Raya Ngurah Rai, menjadikan daerah ini sebagai pusat studi banding dari sejumlah daerah di Indonesia maupun ahli dari sejumlah negara dunia.

Rombongan ahli hutan bakau yang pernah studi banding mengenai hutan bakau ke Bali antara lain dari Jepang, Jerman, Filipina, Italia dan Amerika  Serikat.

Delegasi Filipina, misalnya, beranggotakan sebelas orang yang terdiri atas para ahli hutan bakau dan mereka melakukan studi tentang pengelolaan lingkungan, khususnya kawasan pesisir.  

Delegasi yang dipimpin Penasehat Ahli Masalah Lingkungan Pesisir Filipina, Rolando L Metin dalam kunjungannya ke Bali pada awal 2011 itu melihat dari dekat pengembangan hutan bakau.

Ia ingin melihat Bali tidak hanya sebagai daerah tujuan wisata dengan panorama alam dan budayanya yang unik, namun juga melihat keberhasilan Bali dalam mengelola lingkungan pesisir, khususnya kawasan hutan bakau.

Filipina telah lama merencanakan untuk mengadakan studi banding ke Bali, dengan harapan dapat meniru pola dan sistem gerakan Bali hijau untuk diterapkan di negaranya.

Kawasan hutan bakau di daerah pesisir Bali selatan cukup berhasil mengembangkan berbagai jenis tanaman, yang ditata sedemikian rupa, dihubungkan dengan jalan setapak, sehingga menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat kota Denpasar dan sekitarnya.

Selain masyarakat biasa menjadikan kawasan hutan bakau sebagai tempat rekreasi seperti memancing ikan, wisatawan mancanegara senantiasa juga berkunjung ke lokasi itu.

Kawasan hutan bakau yang lokasinya memanjang di pesisir selatan pantai Bali, masih terus dilakukan penanaman berbagai jenis tumbuh-tumbuhan secara berkesinambungan.

        
Objek Wisata

Proyek percontohan hutan bakau secara tidak langsung mampu mengubah daerah yang sebelumnya kolam tambak menjadi objek wisata baru yang sangat diminati masyarakat maupun wisatawan mancanegara.

Kunjungan wisatawan setiap tahunnya mencapai ribuan orang, meskipun masih kecil dibanding pelancong yang berliburan ke Bali secara keseluruhan. Selain itu masyarakat setempat setiap sore rekreasi ke dalam kawasan hutan, yang telah dilengkapi dengan fasilitas tempat duduk, tempat bermain dan tempat memacing di sungai-sungai kecil.

Kawasan hutan bakau itu ditumbuhi pepohonan mengandung aneka jenis tanaman obat-obatan yang dapat penyembuhkan berbagai jenis penyakit.

Pihak pengelola telah meneliti sejumlah tanaman yang tumbuh di kawasan hutan bakau yang berpotensi sebagai bahan obat-obatan. Bahkan siswa sejumlah sekolah menengah tertarik untuk meneliti sebagai bahan karya tulis ilmiah remaja.

Dari beberapa kali pelaksanaan lomba karya tulis remaja terungkap banyak manfaat dan fungsi dari kehadiran hutan bakau.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika beberapa kali telah memimpin gerakan penanaman berbagai pepohonan di kawasan hutan bakau maupun lahan milik masyarakat, terlebih setelah konferensi pemanansan global dan perubahan iklim yang berlangsung di Nusa Dua, Bali Desember 2007.

Berbagai jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomis, tanaman langka maupun tanaman keperluan upacara ritual telah ditanam dan hal tersebut terus disempurnakan dalam program Indonesia Hijau dan Bali lestari.

Penanaman dilakukan secara berkesinambungan, tanpa menunggu momentum atau hari-hari peringatan tertentu. Hal itu dilakukan untuk menambah kesejukan Bali sebagai daerah wisata.

Masyarakat Bali umumnya menanam berbagai jenis pepohonan di sekitar mata air, yang secara tidak langsung menjaga kesinambungan sumber air, disamping tempat-tempat lainnya, tutur Gubernur Pastika.

Jika gerakan Bali hijau berkelanjutan, niscara sepanjang jalan di Bali akan rindang rindang maka Bali akan bertambah sejuk, sehingga wisatawan dalam dan luar negeri semakin senang berwisata ke daerah ini.(**)




Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026