Amlapura (Antara Bali) - Untuk menghindari konflik di desa, para "bendesa" atau kepala adat diminta untuk memberikan informasi yang benar kepada warganya.

"Bendesa adat harus bisa memberi pemahaman dan informasi yang benar kepada warganya," kata Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg saat menyerahkan dana insentif kepada para bendesa serta kelian atau kepala subak di Gedung Kesenian Amlapura, Jumat.

Ia mengakui munculnya gejolak  hingga menyulut konflik di tengah masyarakat muncul karena masyarakat mendapat informasi yang salah tentang suatu hal dari kepala adatnya.

Diharapkan, "bendesa adat"  atau kepala adat sebagai ujung tombak menjaga Bali  dapat memberi contoh yang baik kepada warganya.

"Bendesa adat dituntut mampu menjadi suri tauladan dalam menangkap segala pengaruh negatif yang berpotensi mengganggu ketentraman di wilayahnya," jelasnya.

Sementara itu, pada kesempatan penyerahan insentif itu, Bupati Geredeg menyerahkan insentif rapelan semester pertama tahun 2011 dengan nilai Rp 400.000 per bulan untuk bendesa adat serta masing-masing Rp 250.000 per bulan bagi kelian subak dan kelian subak abian.

Total insentif yang bersumber dari APBD Induk 2011 itu sebesar Rp 945 juta.

Rinciannya Rp 456 juta untuk 190 bendesa adat, Rp 237 juta untuk 158 kelian subak dan Rp 252  juta untuk 168 kelian subak abian.

Penyerahan insentif juga disaksikan Ketua DPRD Karangasem, Gede Dana serta jajaran Majelis Madya Desa Pekraman (MMDP) Karangasem dan Majelis Alit Desa Pekraman (MADP) se-Karangasem.(*)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026