Washington (ANTARA) - Amerika Serikat memperingatkan China dan negara lain atas risiko sanksi sekunder yang semakin tinggi jika mereka berbisnis dengan Iran, seiring peluncuran kampanye baru AS untuk memutus jalur ekonomi vital Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kampanye "Operation Economic Outcast" itu berfokus pada lima sektor ekonomi Iran, yaitu aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.

"Mereka yang berdiri bersama Amerika Serikat akan menuai manfaat dari kemitraan kami. Mereka yang mengikat diri pada rezim Iran harus bersiap untuk ikut merasakan isolasi yang dialami rezim terpuruk itu," kata Bessent dalam konferensi pers di Washington D.C., AS, Senin (24/8).

Dia menegaskan tak ada pihak yang kebal terhadap sanksi AS. Bessent pun menekankan entitas atau negara mana pun, termasuk China sebagai mitra dagang utama Iran, dapat menjadi sasaran dalam operasi baru AS itu.

"Setiap negara memiliki batas waktu yang telah ditetapkan untuk menghentikan aktivitas-aktivitas yang telah kami identifikasi. Jika mereka tidak mengambil tindakan, maka kami akan melakukannya secara sepihak melalui kewenangan Departemen Keuangan AS," kata Bessent.

Ancaman itu muncul di tengah upaya Presiden AS Donald Trump yang masih berusaha mencapai kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan dan hanya sebulan sebelum rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih.

 



Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026