"Secara etika 'pesemetonan' atau kekrabatan diinternal puri, Cok Ace itu tetap dipertahankan untuk memimpin Gianyar, karena dari sisi usia Cok Ace lebih tua, ketimbang Cok Nindia," kata salah satu kerabat Puri Peliatan, Cokorda Rai Istri ketika dimintai keterangannya di kantor DPRD Gianyar, Jumat.
Ia mengakui kalau secara historis diinternal puri, Puri Agung Peliatan memang jauh lebih tua umurnya ketimbang Puri Agung Ubud, namun hal itu tidak menjadi patokan karena yang dinilai saat ini adalah masalah etika puri.
"Seperti yang saya jelaskan tadi 'kelihan' (tua) dan 'cenikan' (muda) masih menjadi faktor penentu kebijakan diinternal puri," jelasnya.
Masalah ini, kata wanita yang menjadi anggota DPRD Gianyar dari Partai Golkar itu, masalah tersebut sebenarnya sudah hendak dibahas diinternal "pesemeton" Keturunan Dalem Sukawati (KDS) di puri, sebelum hari raya Galungan lalu.
"Namun karena Puri Agung Ubud sedang berduka, di mana Ibunda Cok Ace menginggal akhirnya pembahasan masalah berbau politik itu ditunda," ujarnya.
Keputusan itu, kata wanita yang juga menjadi Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar itu tidaklah mutlak bisa dikeluarkan, karena semuanya tergantung pada rakyat.
"Kami masih menerima, melihat dan mendengar aspirasi masyarakat," katanya.
Saat ini, Cok Istri menyadari puri bukanlah penentu dalam setiap kebijakan, karena semuanya diserahkan kepada masyarakat.
"Kalau masyarakat menghendaki lain, kami pasti mengikuti rakyat sekali lagi saya tekankan kalau itu memang kehendak rakyat, " kata wanita asal Desa Peliatan, Ubud itu berulang kali.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.