"Mengelola rumah sakit dengan menyandang status bertaraf internasional bukan perkara mudah. Tidak semudah mengelola hotel. Terlebih dahulu, sumber daya manusia (SDM) terutama dokter dan paramedis harus dipersiapkan secara matang," kata Ketut Suastika di Denpasar, Rabu.
Ia mengatakan, untuk menciptakan dokter yang benar-benar ahli di bidangnya dan mampu melayani masyarakat dengan baik perlu waktu yang sangat lama.
Selain itu, kata dia, peralatan rumah sakit tersebut harus selalu diperbaharui dan memerlukan biaya yang sangat tinggi.
"Memang mengelola rumah sakit itu tidak mudah dan biaya operasionalnya sangat tinggi. Lebih-lebih jika rumah sakit itu di-setting menjadi rumah sakit dengan kualitas pelayanan dan peralatan berstandar internasional," katanya.
Menurut Suastika, jumlah ketersediaan tempat tidur di rumah sakit di seluruh Bali sebenarnya sudah melebihi kapasitas dari orang sakit. Kalau pun angka hunian rumah sakit bisa penuh, kondisi itu bersifat musiman mengingat ada sejumlah pandemi untuk penyakit tertentu.
Misalnya, penyakit demam berdarah (DB) yang biasanya mengalami pandemi atau lonjakan kasus setiap lima tahun sekali.
"Untuk tahun ini, angka kasus demam berdarah relatif rendah. Boleh dicek sekarang tingkat hunian rumah sakit di Bali pasti rendah," katanya.
Menyinggung rencana Pemprov Bali membangun rumah sakit internasional, Suastika yang juga Ketua Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Udayana (Ikayana) mengaku lebih tepat jika pemprov bekerja sama dengan pengelola rumah sakit-rumah sakit untuk memberdayakan rumah sakit yang sudah ada.
Bukan membangun rumah sakit baru, kata dia, mengingat jumlah SDM seperti dokter dan paramedis sangat terbatas.
"Mencari SDM yang benar-benar berkualitas sangat sulit. Mengapa Pemprov Bali tidak bekerja sama saja dengan Universitas Udayana yang memang memiliki SDM yang ahli di bidangnya," ujar Suastika.
Ia menambahkan, pihak Unud tetap berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan rumah sakit pendidikan di kawasan Kampus Bukit Jimbaran.
Dikatakan, pembangunan fisik rumah sakit itu tengah dilaksanakan dan diharapkan proses pembangunan fisik itu sudah rampung pada akhir 2012.
"Nantinya, rumah sakit Unud itu memiliki keunggulan di bidang penyakit infeksi dan 'travel medicine' (kedokteran pariwisata). Jadi, kami juga siap melayani wisatawan yang sakit saat berwisata di Pulau Dewata. Kami akan menempatkan ahli-ahli kami di bidang 'travel medicine' dan penyakit infeksi di Rumah Sakit Unud ini," katanya.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.