"Bank Indonesia memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan `7 Days Reverse Repo`," kata Agus di Jakarta, Jumat.
Agus menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir sudah tidak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini. Bank Sentral, kata Agus, akan secara tegas dan konsisten mengarahkan kebijakan moneter untuk menciptakan stabilitas perekonomian.
"Respon penyesuaian suku bunga akan dijalankan secara konsisten dan `pre-emptive` untuk memastikan keberlangsungan stabilitas," ujar dia.
Pernyataan senada juga telah dikeluarkan Agus pada Rabu malam (9/5). Agus menegaskan sedang menyiapkan kebijakan moneter yang tegas, termasuk penyesuaian suku bunga kebijakan "7-day Reverse Repo Rate" di tengah depresiasi rupiah yang sebesar 3,44 persen hingga 8 Mei 2018 (year to date) secara tahun berjalan.
Agus mengakui hingga Jumat ini, tantangan ekonomi global semakin deras. Tantangan itu di antaranya peningkatan suku bunga di Amerika Serikat, meningkatnya harga minyak dunia, serta menguatnya risiko geopolitik sebagai akibat meningkatnya tensi sengketa dagang AS-China dan pembatalan kesepakatan nuklir AS-Iran.
Sejak 1-9 Mei 2018, Rupiah melemah 1,2 persen (month to date), Thai Bath 1,76 persen (mtd), dan Turkish Lira 5,27 persen (mtd). Sementara itu, hingga 9 Mei dari 1 Januari 2018, Rupiah melemah 3,67 persen (year to date/ytd), Pilipina peso 4,04 persen (ytd), India Rupee 5,6 persen (ytd), Brazil Real 7,9 (ytd), Russian Rubel 8,84 (ytd), dan Turkish Lira 11,42 (ytd).
Agus juga mengatakan bank sentral akan tetap konsisten mendorong berjalannya mekanisme pasar secara efektif dan efisien, sehingga ketersediaan likuiditas baik di pasar valuta asing dan pasar uang tetap terjaga dengan baik. (WDY)
Pewarta: Indra Arief PribadiEditor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.