Denpasar (Antara Bali) - Lemas. Itulah kesan pertama dari ibu tua pedagang kue di sebauh pasar tradisional di Denpasar, kota Pariwisata Bali, saat uang kertas lima puluh dan seratus ribu rupiah yang ada ditangannya asli tapi palsu.
Padahal uang dagangannya itu seluruhnya hanya enam ratus ribu rupiah, dua lembar diantaranya diketahui palsu oleh anaknya sendiri dan rugilah pedagang kecil tersebut gara-gara ulah dari orang yang tak bertanggungjawab.
Jangankan pedagang kecil, pengusaha kerajinan asal Aceh yang pernah mengikuti pameran dagang bertaraf internasional di China, pernah lemas saat menghitung uang dagangannya yang sebagian besar uang kertas yuan palsu.
Coba bayangkan, kita jauh-jauh dari Indonesia memboyong barang dagangan ke seberang negara kemudian hasilnya uang palsu, tutur Made Wijaya, pengusaha asal Bali yang ikut dalam pameran dagang tersebut tempo hari.
"Peristiwa itu ketahuan saat kita orang Indonesia yang menempati satu ruang khusus menghitung hasil dagangan di pameran tersebut, setelah diperiksa secara teliti ternyata uang kertas itu palsu, syukur barang saya belum laku saat itu," kata Made.
Berdasarkan pengalaman itu, semua peserta pameran dari Indonesia besoknya membeli lampu alat pengamat uang kertas untuk mengetahui palsu atau tidaknya uang kertas yang diterimanya, akhirnya selamatlah bersama.
Uang palsu yang beredar tidak saja ada di Indonesia, hampir di belahan dunia.
Uang kertas dolar yang dikeluarkan pemerintah Amerika serikat saja juga ada yang dipalsukan para sedikat yang pernah beredar hingga ke Bali.
Manusia yang menginginkan penghasilan bersekala besar tanpa mau mengeluarkan banyak keringat, tentu memiliki teknik-teknik tersendiri dan perhitungan sangat matang dalam usahanya mengkelabui masyarakat dengan alat bayar tidak resmi.
Para sindikat uang kertas palsu tentu memiliki pemikiran bahwa saat proses pelaksanaan pemilihan Umum Legislatif maupun Presiden, banyak uang beredar untuk memenuhi keperluan perhelatan politik tersebut.
Begitu pula pada musim puasa menjelang Idul Fitri, juga masyarakat Indonesia umumnya memerlukan banyak uang tunai, sehingga situasi itu dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk mengedarkan uang kertas asli tapi palsu di masyarakat.
Bali yang terkenal memiliki banyak libur dalam rangkaian perayaan hari keagamaan, seperti Galungan, Nyepi bagi Umat Hindu, Idul Fitri bagi umat Muslim, Natal untuk Kristiani dan akhir tahun Baru, dapat dipastikan banyak uang beredar.
Bank Indonesia mencatat dalam sepanjang tahun 2010 uang tunai yang beredar paling banyak saat perayaan Lebaran dan akhir tahun, karena banyak wisatawan dalam dan luar negeri berlibur di daerah yang dijuluki pulau Surga ini.
Oleh sebab itu di Bali penemuan uang palsu selama triwulan I-2011 sebanyak 1.107 lembar, jumlah itu bertambah hingga 12,5 persen jika dibandingkan periode yang sama sebelumnya yang hanya 904 lembar.
Secara kualitas dan kuantitas, penemuan uang kertas palsu di daerah pariwisata Bali setiap tahun semakin meningkat, dan kondisi itu diketahui berdasarkan temuan bank-bank atau laporan lembaga keuangan lainnya.
Bukan surganya
Pimpinan Bank Indonesia Denpasar Jeffrey Kairupan mengatakan, wilayah Bali walau pun banyak dikunjungi masyarakat internasional untuk melaksnakan liburannya, bukanlah surga bagi pengedar uang palsu.
"Pulau Dewata bukan tempat menarik bagi pengedar uang palsu karena transaksi uang secara tunai di wilayah ini lebih kecil dibandingkan dengan nontunai," katanya di sela-sela acara obrolan santai tentang "Kesadaran Hukum Bagi Perbankan Daerah" di Denpasar.
Para pengusaha dan masyarakat di daerah tujuan wisata internasional tersebut, lebih banyak melakukan transaksi menggunakan pembayaran maupun menerima uang tidak tunai, seperti menggunakan kartu kredit dan debit .
Selain karena transaksi tunai di Pulau Dewata tidak terlalu tinggi, kasus tentang peredaran uang palsu tergolong sangat rendah.
Jumlah peredaran uang palsu di Bali hanya sekitar 0,001 persen dari uang yang beredar setiap bulannya yakni Rp2 - Rp5 triliun.
Walaupun diketemukan adanya uang palsu yang beredar di wilayah Pulau Dewata itu, sesuai yang dilaporkan pihak lembaga keuangan, masyarakat dan kepolisian, diedarkan oleh para pelaku amatir dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
"Para pelakunya tergolong amatir dan bukanlah berasal dari sindikat internasional yang terorganisir dengan baik," katanya sambil menyebutkan bahwa kondisi peredaran uang palsu itu tidak terlalu tinggi dan bisa dikatakan masih aman.
Bank Indonesia tetap berupaya mempersempit ruang gerak peredaran uang palsu di daerah ini, dengan melakukan sosialisasi secara berkelanjutasn tentang ciri-ciri keaslian nilai uang rupiah kepada masyarakat.
Dalam sosialisasi terhadap uang kertas tidak saja melakukan secara tatap muka, juga dilaksanakan lewat pementasan kesenian dengan harapan masyarakat tertarik menontonnya dengan dialog yang diselingi dengan informasi pengetahuan keberadaan uang palsu.
Upaya tersebut tentu untuk lebih menarik minat masyarakat menyaksikan sosialisasi tersebut, melalui berbagai jenis hiburan termasuk hiburan musik, disamping juga lewat stand pameran pembangunan yang diselenggaran di daerah ini.
Petugas maupun seniman di hadapan penggemarnya menjelaskan terhadap ciri-ciri uang rupiah yang sangat mudah untuk dikenali oleh masyarakat, seperti berupa warna, gambar, ukuran, berat dan tanda-tanda lainnya.
"Untuk mengenali ciri-ciri uang rupiah, masyarakat cukup hanya melakukan apa yang sering disebut dengan 3D yakni diraba, dilihat dan diterawang," disamping diperlihatkan melalui poster jenis-jenis uang rupiah yang dikeluarkan pemerintah.
Sosialisasi itu tentu memberikan manfaat besar bagi masyarakat, dimana pada saat pemalsu uang kertas membelanjakan uangnya di pembelian bensin di Denpasar, ternyata diketahui bahwa uang kertas yang dibayarkan itu palsu.
Petugas pertamina di SPBU di seputar Jalan Gatot Subroto Denpasar yang curiga dengan uang kertas pecahan Rp100.000 yang dibayarkan oleh pria bernama Eko itu, melaporkan temuan peristiwa yang dapat merugikan perusahaan di tempatnya bekerja ke Polsek Denpasar Barat.
Mendapat laporan itu petugas langsung bergerak dan setelah diperiksa, tersangka benar melakukan pembayaran dengan uang palsu. Polisi yang kemudian menggeledah bagian saku dan tas yang dibawa Eko, menemukan 15 lembar uang palsu dalam pecahan yang sama.
Tim Buru Sergap Polsek Denpasar Barat, Bali, cepat bergerak dan akhirnya menangkap empat tersangka pengedar uang palsu lainnya dengan barang bukti lebih dari 100 lembar pecahan Rp100 ribu, yang belum sempat dibelanjakan alias diedarkan.
Pelaksanaan pemantauan terhadap peredaran uang palsu di daerah ini, Bank Indonesia bekerjasama dengan Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal), dan Badan Intelijen Negara (BIN).
Disamping itu Bank Indonesia Denpasar secara intensif melakukan pengawasan dan penarikan uang palsu jika ditemukan, serta aktif melakukan sosialisasi.
"Kami juga membentuk satuan kerja untuk memberantasnya," kata pimpinan Bank Indonesia Denpasar itu.
Pemalsuan uang merupakan kejahatan transnasional. Untuk itu perlu adanya penindakan tegas dan data yang ada mampu mendukung upaya Polri untuk memberantas dan menangkap pengedarnya jika ada bermunculan di Bali.
Masyarakat di daerah ini diharapkan agar selalu waspada terhadap uang kertas palsu yang beredar dengan jumlah dikhawatirkan bertambah banyak, oleh sebab itu terutama para petugas kasir harus berhati-hati.
Kewaspadaan itu penting karena jumlah peredaran uang palsu meningkat hampir 1.000 lembar dari 1.800 lembar pada 2005, menjadi 2.800 lembar hingga akhir 2010 dalam berbagai pecahan uang kertas dan 1.107 lembar awal 2011.
Uang merupakan alat tukar resmi dari pemerintah, maka masyarakat yang pernah menerimanya dapat dipastikan akan lemas menghadapi peristiwa itu, oleh sebab itulah jika menemukan uang palsu, segera melaporkan ke pihak bank atau petugas kepolisian terdekat.
Pengalaman penerima uang kertas palsu, baik itu dalam bentuk rupiah maupun dolar merupakan guru utama dalam bertindak yang lebih waspada dan hati-hati dalam melakukan transaksi di masyarakat.(*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.