Denpasar (Antara Bali) - Program Pascasarjana (S-2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar banyak peminat dari para alumni maupun calon mahasiswa dari mancanegara.

"Puluhan mahasiswa S-1 yang akan diwisuda 28 Juli 2011 juga menyatakan tertarik untuk melanjutkan ke program S-2," kata Rektor ISI Denpasar, Prof Dr I Wayan Rai S MA didamping pembantu rektor (PR) Drs I Ketut Murdana, M.SN di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan, pendaftaran mahasiswa baru untuk program magister itu berlangsung selama tiga pekan. 25 Juli hingga 14 Agustus 2011 di kampus setempat.

Dalam penerimaan mahasiswa baru program pascasarjana  Penciptaan dan Pengkajian Seni lebih menekankan pada mutu, sehingga melakukan seleksi yang cukup ketat.

"Tentang berapa mahasiswa yang akan ditampung itu sangat tergantung dari hasil seleksi penerimaan mahasiswa," ujar Prof Rai.

ISI Denpasar dari segi sarana dan tenaga pengajar memiliki kesiapan yang sangat matang. Tenaga dosen tidak hanya dari kalangan ISI Denpasar, namun juga telah menjalin kerja sama untuk memanfaatkan dosen dari ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, Institut Kesenian Jakarta.

Selain itu juga guru besar dari Universitas Udayana maupun perguruan tinggi lainnya di Bali yang selama ini sudah sepakat menyukseskan program S-2 ISI Denpasar.

Prof Rai menjelaskan, pembukaan program S-2 yang akan melakukan proses belajar mengajar mulai tahun ajaran 2011 didasarkan atas surat keputusan (SK) Menteri Pendidikan Nasional nomor 90/E/0/2011 tanggal 27 April 2011.

Program S-2 tersebut mempunyai visi dalam 15 tahun ke depan untuk mencetak magister seni budaya untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia.

Dalam penjabaran tersebut melakukan kegiatan pendidikan, penelitian dan kekayaan seni yang berbasis budaya lokal dan nusantara. Menyiapkan sumber daya manusia yang unggul bertaraf magister dalam bidang penciptaan dan pengkajian seni serta peka terhadap perubahan zaman.

Demikian pula mengelola, memimpin dan mengembangkan program penciptaan dan pengkajian seni yang profesional serta mengembangkan pusat informasi dan sosialisasi karya seni, tutur Prof Rai.(*)




Editor : Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026