Denpasar (Antara Bali) - Umanis Galungan, sehari setelah Hari Suci Galungan, hari raya terbesar umat Hindu di Bali, Kamis diwarnai suasana saling mengunjungi sesama keluarga dekat (silaturahmi).

Warga mengunjungi rumah sanak keluarga dan kerabat untuk saling maaf memaafkan, sehingga anggota dari masing-masing keluarga selalu ada di rumah dan belum melakukan aktivitas secara maksimal, demikian pemantauan ANTARA diberbagai tempat, Kamis.

Mereka saling berkunjung ke rumah sanak keluarga dan kerabat untuk saling maaf memaafkan. Suasana demikian itu lebih mencolok di daerah pedesaan dibanding daerah perkotaan di Bali.

Setelah bersilaturahmi sejak pagi hingga siang hari, warga umumnya berkreasi mengunjungi objek-objek wisata di luar Kota Denpasar.

Objek wisata yang ramai dikunjungi antara lain objek wisata Bedugul, Tanah Lot, Alas Kedaton di Kabupaten Tabanan maupun objek wisata Sangeh yang "mengoleksi" ratusan ekor kera.

Sebagian masyarakat Kota Denpasar lainnya mengunjungi pantai Sanur, Kuta atau sekadar duduk-duduk di lapangan hijau Puputan Badung, jantung kota Denpasar.

Meskipun demikian lalu lintas masih tampak lenggang, tidak seperti hari-hari biasa yang selalu diwarnai dengan kemacetan. Pertokoan maupun pasar di Kota Denpasar dan sekitarnya belum melakukan kegiatan secara maksimal.

Sementara perkantongan pemerintah dan swasta masih tutup, kecuali instansi vital yang memberikan pelayanan umum bersifat mendesak seperti rumah sakit tetap melakukan aktivitas seperti biasa.

Berkaitan Hari Suci Galungan di Bali selama tiga hari berturut-turut, seluruh perkantoran tutup, mulai dari Penampahan Galungan (5/7), Galungan (6/7) dan Umanis Galungan (7/7).

Setelah Hari Suci Galungan akan disusul Hari Raya Kuningan sepuluh hari kemudian, Sabtu 16 Juli 2011 yang juga bermakna menegakkan kebenaran dan momentum meningkatkan kualitas diri serta memotivasi diri agar umat manusia selalu hidup dalam ketekunan, ketentraman, kedamaian, tanpa melupakan keselamatan diri maupun lingkungan.

Umat Hindu pada Hari Suci Galungan maupun Kuningan melakukan introspeksi diri, agar sadar dan mengetahui kebenaran sejati, mengingat kebenaran sejati itu harus ditegakkan dalam kehidupan rumah tangga, bermasyarakat maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.(*)


Editor : Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026