"Sebelumnya hampir setiap enam bulan saat menjelang Galungan, hari raya umat Hindu terbesar di daerah ini, kita mendatangkan babi, seperti dari Jawa Timur, karena saat itu tingkat kebutuhan daging jauh lebih besar dari persediaan ternak yang ada," kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali Putu Sumantra di Denpasar, Minggu.
Ia mengatakan, daerahnya belakangan tidak perlu lagi mendagangkan babi dari luar daerah, karena persediaan ternak itu memadai, di samping ternak babi di luar Bali populasinya semakin turun.
Bali menjelang Hari Raya Galungan, hari raya besar dalam memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan) memiliki persediaan babi yang siap potong dengan berat rata-rata di atas 100 kg/per ekor sekitar 140.000 ekor.
Kondisi itu hampir tiga kali lipat dari kebutuhan selama ini setiap bulan rata-rata 20.000 ekor. Persediaan babi yang siap "panen" jauh di atas rata-rata kebutuhan.
Ia mengakui, beberapa hari menjelang Galungan, harga daging babi dalam kondisi bersih maupun babi hidup mengalami lonjakan harga, namun masih terjangkau masyarakat setempat.
Harga daging babi sebelum galungan berkisar Rp35.000-Rp45.000/kg namun sekarang berkisar Rp38.000-Rp50.000 per kilogram.
Sedangkan babi hidup sebelumnya rata-rata Rp21.000/kg sekarang meningkat menjadi Rp22.000-Rp24.000/kg untuk babi dengan berat di atas 100 kg.
Masyarakat Bali, khususnya yang bermukim di pedesaan semakin intensif memelihara ternak babi, karena hampir di setiap rumah tangga memelihara satu-dua ekor, bahkan bisa mencapai puluhan ekor.
Masing-masing keluarga umumnya sudah mempersiapkan babi untuk dipotong secara bersama-sama dengan warga sekitarnya pada hari "penampahan", sehari menjelang Galungan. Populasi babi di Bali kini sekitar 924.297 ekor, ujar Putu Sumantra.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.