Mangupura (Antara Bali) - Dinas Perhubungan Provinsi Bali bekerja sama dengan Organda memberikan pelatihan kepada puluhan sopir taksi dan angkutan pariwisata di Mangupura, Bali, Selasa.

"Diklat itu merupakan gelombang kedua yang diikuti oleh 50 orang sopir taksi dan angkutan pariwisata," kata Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali Made Santha usai membuka acara diklat tersebut.

Diklat tahap II itu bertemakan "Kita Tingkatkan Pelayanan Awak Kendaraan Angkutan Taksi dan Pariwisata Menuju Service Excellent Bertaraf Internasional".

Dia mengatakan, pihaknya memiliki komitmen besar untuk menjadikan jasa angkutan di Pulau Dewata lebih baik.

Untuk itu, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam meningkatan jasa angkutan, yakni Standar Pelayanan Minimum (SPM), Standar Operation Procedure (SOP) dan pembentukan tim ahli pengkaji bisnis angkutan. "Kita tak mau hanya jadi penonton bisnis angkutan," ujarnya.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Bali, Ketut Eddy Dharmaputra mengatakan, diklat terhadap para sopir angkutan tersebut dilakukan secara bertahap untuk seluruhnya.

"Ada 15.000 sopir di Pulau Dewata, namun kita baru bisa melakukan diklat dua kali yang melibatkan sekitar 130 orang. Kita minta agar pemerintah dan perusahaan angkutan ikut aktif," katanya.

Dia berharap, melalui diklat itu kemampuan para sopir bisa meningkat. Kemampuan tersebut akan berhubungan dengan pelayanan yang memuaskan.

"Bali merupakan daerah pariwisata, jika kita memiliki layanan angkutan yang baik, maka wisatawan yang datang bisa tinggal lebih lama," ungkapnya.

Pada diklat tersebut para sopir diberikan keterampilan berbahasa Inggris. Saat kegiatan itu ada hal yang cukup menarik dengan kehadiran dua peserta sopir wanita.

Cok Istri Agung Laksmi, salah seorang sopir wanita yang kini menjadi pengemudi mobil Bali Taksi (Blue Bird Group) mengatakan, dirinya sudah satu tahun bergabung di operator kendaraan jasa tersebut sebagai sopir dan merasa perlu meningkatkan kemampuan dalam bahasa Inggris.

Ketua Panitia Diklat Sopir Taksi dan Angkutan Wisata, Agus Subroto mengatakan, diklat itu pesertanya dibatasi oleh 50 sopir.

"Kami harapkan dengan pembatasan jumlah peserta, hasilnya lebih maksimal, karena bisa lebih fokus," katanya.(*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026