Denpasar (Antara Bali) - Anggota Komisi Pemilihan Umum I Gusti Putu Artha yang juga alumni Gerakan Mahasiswa Marhaenis Indonesia (GMNI) mengingatkan pentingnya kehadiran pemimpin yang kuat guna mengawal kebangkitan nasional Republik Indonesia.

"Kepemimpinan di semua lini, baik nasional, kementerian, kepala daerah, hingga kepala desa, harus 'strong man'," ungkapnya di sela-sela Rakornas dan Bintek Anggota DPRD se-Indonesia dari Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) di Denpasar, Sabtu.

Pemimpin yang kuat, katanya, adalah mereka yang memiliki kapasitas yang memadai, punya nyali yang kuat dan berani mengambil tanggung jawab pertama atas segala keputusan yang diambilnya.

Putu Artha menyampaikan hal itu terkait banyaknya persoalan di negeri ini yang tidak langsung dapat diselesaikan oleh para pemimpin yang berwenang.

"Berbagai persoalan yang kemudian mengendap, tidak berhasil diselesaikan hingga saat ini, disebabkan pemimpin kita serba gamang untuk menyelesaikannya," ucapnya.

Menurut Artha, sebetulnya pemimpin saat ini banyak yang memiliki kapasitas, namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana tugas pokok dan fungsi mereka dijalankan dengan tepat sesuai kewenangan masing-masing.

"Siapa yang diberi kewenangan, dia harus berada di garda depan dengan bekal nyali yang besar, punya kapasitas dan berani menanggung risiko paling pertama atas seluruh kepemimpinannya," tegasnya.

Putu Artha mengingatkan bahwa kepemimpinan di tingkat lokal juga harus berani pasang badan. "Gubernur misalnya, betapun sulitnya situasi Perda RTRW, dia harus mengawalnya. Kasus Hotel Best Western, Bupati Badung harus tegas, bongkar ya bongkar. Karena peraturannya sudah jelas, tidak perlu gamang," ucapnya.

Kepemimpinan yang berani diperlukan, tambahnya, semata-mata agar masyarakat merasa nyaman dalam melaksanakan akvititas dan menjalani kehidupan sehari-hari.(*)


Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026