"Sebagai anggota Dewan harus sering turun ke lapangan untuk menyerap aspirasi warga masyarakat, sehingga apa yang menjadi kebutuhan dan harapannya bisa diperjuangkan di DPR," kata PSR saat hadir di arena Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Kota Denpasar, Minggu.
Ia mengatakan sebagai kader Partai Demokrat yang duduk di DPR harus konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat. Termasuk juga dalam pemaknaaan HUT ke-16 Partai Demokrat, tidak ingin hanya diwarnai aksi-aksi turun ke masyarakat dengan cara instan.
Oleh karena itu, kata PSR, HUT Partai Demokrat kali ini dijadikan momentum untuk evaluasi program partai dan totalitas kader bersama rakyat secara berkelanjutan.
Menurut PSR, kader Demokrat harus lebih dekat di tengah rakyat yang sedang membutuhkan solusi. Karena itu "tagline "Demokrat hadir memberi solusi, bantu rakyat dan kawal pemerintahan sangat tepat disampaikan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Ini momentum tepat untuk lebih cepat berbaur dengan rakyat dan menyambung komunikasi lebih baik lagi untuk menyerap aspirasi mereka," ujar pemiliki Meseum Rudana Ubud.
PSR memilih turun menemui para petani di Bali karena kalangan ini yang selama ini paling nyaring keluhannya. Pertanian Bali masih menjadi andalan ekonomi Pulau Dewata.
"Di Bali untuk pekan ini saya memilih turun menemui petani. Karena suara petani begitu nyaring dan tulus, apa masalah-masalah yang terjadi di bawah terungkap semua. Dan disinilah kami hadir mencari solusi petani," ucap PSR yang menargetkan menemui konstituen di 50 titik sampai enam pekan ke depan.
Politikus asal Desa Peliatan, Kecamatan Ubud Gianyar ini menyebutkan pertanian Bali menjadi kekuatan nusantara. Bali memiliki kawasan Subak Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, yang selama ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Bali, namun juga multifungsi.
"Selain sebagai bentuk melestarikan adat dan budaya, pertanian Bali memberikan manfaat ekonomis bagi Bali untuk kepariwisataan. Pelestarian lingkungan dengan konsep "Tri Hita Karana" (kesimbangan dan keharomonisan dalam kehidupan)," ucapnya.
Menurut Supadma Rudana, pertanian Bali dengan konsep "Subak" (organisasi dan sistem pengairan), dan mendapatkan pengakuan dunia sebagai Warisan Budaya Dunia dari UNESCO (United Nastions Education, Scientific and Culture Organization) harus terjaga dengan baik.
PSR mengatakan saat ini ada beberapa masalah yang dihadapi petani di Bali. Mulai dari alih fungsi lahan pertanian, akibat regulasi yang tidak berpihak kepada petani. Kemudian fasilitasi untuk para petani yang masih tidak maksimal oleh pemerintah, terutama saat penjualan hasil produk pertanian.
"Di samping juga masalah pajak tanah yang mencekik leher. Ini masalah-masalah yang kami dapatkan ketika terjun di Bali," katanya.
Aksi nyata saat terjun di lapangan menemui petani, kata dia, sementara persoalan perbaikan irigasi organisasi Subak yang ditemui sudah siapkan bantuan perbaikan.
"Sementara regulasi masalah pajak yang tinggi tentu harus kita perjuangkan dengan menggedor pemegang kebijakan. Ini yang kita koordinasikan dengan pemangku kepentingan terkait," kata PSR yang juga Ketua Permuseuman Indonesia itu.
Sebelumnya, PSR bertemu dengan masyarakat petani, pihaknya juga bertatap muka dengan tokoh seniman, masyarakat dan tokoh lintas agama yang ada di Bali.
Pewarta: Pewarta Komang SupartaEditor : I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026