Tabanan (Antara Bali) - Tokoh petani di Kabupaten Tabanan, Ida Bagus Raka, menyatakan, petani mengharapkan harga vanili bisa naik dari Rp150.000/kg dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.

"Bayangkan, pada 2004 dulu harganya sampai Rp4 juta perkilogram. Sekarang cuma Rp150.000 saja dan ini sangat memukul petani vanili di mana-mana," katanya di Tabanan, Senin.

Introduksi tanaman vanili di Kabupaten Tabanan dimulai dari Kecamatan Pekutatan yang hingga kini bekas-bekas masa kejayaan tanaman itu masih tersisa.

Sekitar 1.500 hektare lahan tanaman merambat itu masih terdapat di sana dengan perawatan seadanya.

Menurut Raka, salah satu sebab kejatuhan harga vanili adalah keadaan pasar Amerika Serikat yang merosot tajam daya belinya akibat krisis keuangan global.

"Ekspor ke Amerika Serikat itu sangat penting buat kita dan justru di sana ada masalah besar. Sekarang Amerika Serikat mulai pulih tapi mereka terlanjur akrab dengan esens vanili," katanya.

Dengan begitu, maka campur tangan pemerintah untuk melindungi petani dan produksi vanili nasional diperlukan agar vanili Indonesia tetap eksis dan memberi kemakmuran bagi para petaninya.

"Kalau tidak dilindungi kepentingannya, maka vanili Indonesia akan sangat sulit untuk bangkit. Jangan heran kalau lalu petani trauma menanam vanili karena tidak akan menguntungkan malah merugikan besar-besaran," katanya.

Dia mengakui bahwa produktivitas vanili sangat memerlukan peran serta manusia, terutama dalam pembuahan sehingga buah itu bisa dipetik pada masa yang pas. Vanili yang masih satu famili dengan sirih dan lada merupakan tanaman berrumah tunggal dan pembuahan pasca penyerbukan harus betul-betul dijaga kalau tidak ingin gagal.

Pada masa-masa kejayaan harga vanili terjadi, Raka mengaku bisa mengekspor 100 ton vanili kering kualitas super ke Amerika Serikat. "Persediaan kita ada dan buah vanili kering itu tidak busuk kecuali kena hujan atau lembab. Tinggal mendobrak pasar agar mau menaikkan harganya," katanya.

"Tidak usah banyak-banyak, naik dari harga Rp150.000 ke Rp500.000 sekilogram saja sudah bagus sekali untuk kami. Semuanya serba mahal sekarang ini, mulai dari harga bibit sampai upah pemeliharaan," katanya.(*)










: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026