Gianyar (Antara Bali) - Program pengembangan padi semi-organik di Subak Getas, Banjar Getas Kawan, Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar, Bali mampu meningkatkan produktivitas dari 5,5 ton per hektare menjadi 7,8 ton 9,4 ton per hektare.

Wakil Gubernur Bali Drs Ketut Sudikerta didampingi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana bersama 70 petani di subak tersebut melakukan panen padi percontohan tersebut, Jumat.

Meningkatnya produksi padi persatuan hektare tersebut menurut Causa Imam Karana berkat program pengembangan padi semi-organik yang dilakukan sejak tahun 2016 sebagai replikasi dari keberhasilan pengembangan klaster padi di Pulagan yang mampu meningkatkan hasil panen dan mengembalikan kesuburan serta unsur hara tanah.

Produksi padi setiap hektare di subak tersebut awalnya 5,5 ton/hektare, uji coba pertama dapat ditingkat menjadi 7,8 ton/hektare dan uji coba tahap kedua meningkat menjadi 9,4 ton per hektare.

Padi semi-organik tersebut merupakan budaya tanam padi yang menerapkan teknik "System of Rice Intensification" (SRI) yang menggunakan pupuk organik seperti biofarm, pestisida nabati dan fungisida nabati yang dibuat sendiri oleh para kelompok tani tersebut.

Causa Iman Karana mengatakan penerapan teknologi baru bidang pertanian tersebut membawa perkembangan yang sangat pesat pada pertumbuhan padi, karena dalam umur 65 hari padi varietas "Ciherang" sudah mulai berbulir dan saat berumur 100 hari sudah siap panen.

Sedangkan dengan metode konvensional dibutuhkan waktu 116-125 hari agar dapat dipanen. Selain pertumbuhan yang pesat, sejak menggunakan perlakukan organik biota sawah seperti belut, tutu, kodok dan cacing tanah yang sebelumnya hampir punah, menjadi muncul kembali dan populasinya semakin meningkat.

Ia berharap, penanaman padi dengan pola semi-organik dapat terus dikembangkan oleh petani Subak Getas dan secara bertahap diikuti oleh seluruh petani di Bali.

Dengan demikian Bali sebagai daerah swasembada pangan dapat dipertahankan di masa-masa mendatang, sekaligus inflasi yang ditimbulan oleh beras dapat ditekan secara berkesinambungan, ujar Causa Iman Karana.

Wagub Ketut Sudikerta mengharapkan agar generasi muda Bali mulai tertarik kembali menggeluti usaha pertanian yang belakangan ini sangat menurun. Keterlibatan anak-anak muda itu sangat penting, mengingat kebutuhan masyarakat Bali terhadap beras sangat tinggi.

Oleh sebab itu masyarakat khususnya generasi muda untuk terus memperhatikan kelangsungan pertanian di Pulau Dewata dengan mengembangkan berbagai teknologi untuk meningkatkan produksi pertanian.

"Gagasan keratif generasi muda sangat penting untuk meningkatkan dan memperbaharui teknologi pertanian di Bali, agar lahan-lahan pertanian tidak punah akibat alih fungsi lahan. Untuk itu, marilah generasi muda mulai sekarang jangan segan untuk menggeluti sektor pertanian", ujar Wagub Ketut Sudikerta. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016