Palu (Antara Bali) - Jenazah dua pria anggota kelompok sipil bersenjata pelaku teror di Poso, yang salah satu di antaranya diduga kuat adalah Santoso, pimpinan kelompok tersebut, sampai saat ini masih dalam proses evakuasi dari lokasi baku tembak.

"Butuh waktu beberapa jam untuk mengeluarkan jenazah itu dari dalam hutan karena lokasinya berada di hutan pegunungan dengan medan yang cukup sulit," kata Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto yang dihubungi di Poso, Selasa.

Ia belum memastikan jenazah tersebut akan dievakuasi ke mana, namun besar kemungkinan kedua jenazah akan dibawa ke Palu untuk diidentifikasi secara mendalam.

Tim DVI (Disaster Victims Identification) dari Mabes Polri dilaporkan sudah berada di Palu untuk melakukan identifikasi jenazah tersebut guna memastikan apakah itu jenazah Santoso atau bukan.

Keterangan lain yang dihimpun dari Poso menyebutkan bahwa  wilayah Poso Pesisir Utara saat ini sedang diguyur hujan sehingga proses evakuasi diperkirakan akan berjalan lebih labat.

"Mungkin siang baru bisa keluar dari hutan dan malam (Selasa malam) baru jenazah bisa tiba di Palu," ujar seorang sumber dari tim Operasi Tinombala Poso.

Santoso alias Abu Wardah, pimpinan Mujahidin Indonesia Timur, yang diburu aparat keamanan dalam Operasi Tinombala di Poso, dilaporkan tewas dalam baku tembak dengan aparat Operasi Tinombala di pegunungan sekitar desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Senin petang sekitar pukul 17.00 WITA.

Hari Suprapto menyebutkan ada dua jenazah yang ditemukan setelah baku tembak, namun identitas mereka belum dapat dipastikan, meski salah satu dari jenazah itu memiliki beberapa ciri yang sama seperti Santoso, seperti tahi lalat pada dahi.

"Belum bisa kita pastikan bahwa itu Santoso sebelum ada pemeriksaan DNA," kata Danrem 132/Tadulako Palu Kol. Inf Saeh Mustafa.

Dengan tewasnya dua anggota kelompok teroris Poso ini, maka kini tersisa 19 orang pengikut Santoso yang masih berada di hutan-hutan Poso dan menjadi target perburuan aparat keamanan lewat Operasi Tinombala yang melibatkan sekitar 2.500 personel Polri dan TNI itu.

Kelompok Santoso yang bersembunyi di hutan-hutan Poso itu diketahui sudah berbai'at untuk ISIS. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Rolex Malaha

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016