Sanur (Antara Bali) - Ketua Internasional Council for Education of people with Visual Impairment (ICEVI) Sri Soedarsono mengharapkan pemerintah merekrut lebih banyak tenaga pengajar untuk mengabdi di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di berbagai daerah.

"Hal ini dikarenakan, tenaga pengajar belum banyak yang mau mengabdi di SLB sehingga perlu adanya kiat khusus dari pemerintah," ujar Sri Soedarsono, usai acara konferensi ICEVI East Asia, di Sanur, Bali, Selasa.

Ia mengakui, pekerjaan guru di sekolah SLB itu memang memerlukan tenaga ekstra untuk mengajar dan mau bekerja sepenuh hati untuk mendidik anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik itu.

Namun, dengan adanya dukungan pemerintah melalui upaya memberikan beasiswa untuk tenaga pengajar di sekolah SLB itu, dapat sebagai wujud penghargaan untuk bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi.

Anggota ICEVI juga memberikan dukungan para guru-guru pengajar di SLB untuk dapat mengenyam pendidikan keluar negeri seperti Amerika, Bangkok dan Jepang untuk menambah wawasannya.

"Saya berharap tenaga pengajar yang telah mengenyam pendidikan itu mau kembali mengajar di SLB," ujarnya.

Dengan adanya kendala kekurangannya tenaga pengajar itu, kata dia, para penyandang tuna netra tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam dunia pendidikan.

"Kami ingin memperbaiki nasib para penyandang tuna netra ini agar tidak dipandang sebelah mata, namun mendapat kesempatan bersekolah agar memiliki IQ yang lebih baik," ujarnya.

Ia mengakui, apabila para penyandang disabilitas ini diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan mereka memilki kecerdasan cukup baik.

Oleh sebab itu, perlu adanya dukungan pemerintah untuk memberikan anak-anak yang mengalami keterbatasan itu untuk mengenyam pendidikan lebih baik hingga ke Perguruan Tinggi. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Made Surya

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015