Denpasar (Antara Bali) - Pengerajin sepatu kulit dikawasan Jalan Teuku Umar Barat, Marlboro, Denpasar, Bali membutuhkan bantuan promosi produknya melalui kegiatan pameran agar dikenal masyarakat dan wisatawan mancanegara yang berlibur ke Pulau Dewata.

"Kami sangat membutuhkan bantuan pemerintah dalam upaya mempromosikan produk kerajinan sepatu kulit ini agar lebih dikenal lagi," ujar Alex, seorang karyawan di Toko Rian yang bergerak dibidang pembuatan sepatu kulit, di Denpasar, Jumat.

Dengan adanya promosi melalui pameran tersebut, lanjut dia, diharapkan para UMKM yang bergerak dibidang kerajinan sepatu kulit tersebut mampu meningkatkan omzet penjualannya dan menjadi "brand" produk lokal yang memiliki daya saing cukup tinggi dari produk luar negeri.

Selain itu, ia mengharapkan kegatan pameran tersebut dapat dilakukan secara berkala untuk para pengerajin dan UMKM yang ada di Bali, dimana semua biaya akomodasinya dapat diberikan secara cuma-cuma atau tidak dipungut biaya.

Pihaknya mengakui, pengerajin ditempatnya tersebut mampu memproduksi 20 hingga 25 pasang sepatu kulit yang siap dipasarkan. Namun, saat ini akibat kurangnya pemasaran berdampak pada permintaan konsumen terhadap sepatu kulit itu mulai pasang surut. "Sejauh ini, kami baru bisa memenuhi pasar lokal saja. Namun, kami bercita-cita produk kerajinan sepatu kulit ini dapat menembus pasar internasional," ujarnya.

Ia mengakui dampak lain dari penurunan omzet penjualan sepatu kulit tersebut karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang sangat berdampak pada kenaikan bahan dasar untuk pembuatan sepatu kulit itu. Untuk itu, pihaknya mengharapkan adanya bantuan pemerintah dalam memasarkan produk-produk kerajian sepatu kulit itu sehingga lebih dikenal oleh masyarakat, dan khususnya wisatawan yang datang ke Pulau Dewata.

Seorang Pengerajin sepatu kulit, Hendri mengakui dalam sehari mampu memproduksi sepatu kulit perharinya sebanyak 25 pasang, dimana perbulannya dapat menghabiskan satu ton kulit sapi yang merupakan salah satu bahan baku untuk membuat sepatu itu. Namun, pihaknya mengakui para pengerajin sepatu kulit saat ini kebanyakan terkendala pada pemasaran sehingga dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini terjadi penurunan omzet penjualan. (WDY)

Pewarta: Oleh I Made Surya

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015