Denpasar (Antara Bali) - Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Darmawijaya Mantra mengharapkan pasar tradisional dijaga eksistensinya, untuk itu diperlukan berbagai penataan sehingga dapat menarik minat masyarakat bertransaksi di pasar tersebut.
"Dengan adanya revitalisasi pasar tradisional tersebut, kita berharap ke depannya mampu bersaing dengan pasar modern," katanya di Sanur, Bali, Rabu.
Di sela-sela peresmian revitalisasi Pasar Sindu Sanur, ia menyatakan, Pemerintah Kota Denpasar telah berupaya melakukan revitalisasi dan penataan pasar-pasar tradisional di wilayahnya.
"Tiga pasar tradisional yang telah direvitalisasi, yaitu Pasar Renon, Panjer dan Pasar Sindu Sanur," katanya.
Ia juga mengajak aparat desa dan kelurahan yang memiliki pasar desa untuk bersama-sama melakukan revitalisasi, sehingga ke depannya dapat bersaing dengan pasar modern.
"Dengan program revitalisasi pasar tradisional, saya optimistis pasar tradisional akan mampu bersaing dengan pasar modern, karena pasar tersebut telah memiliki segmen konsumen tersendiri," ucapnya.
Sementara Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) Ida Bagus Sidharta Putra mengatakan, Pasar Sindu yang dibangun berdasarkan swadaya dari para pedagang dan YPS, dibagi dalam tiga peruntukan, yaitu pasar pagi, pasar seni dan pasar senggol (food court).
"Pasar Sindu ini sengaja kami rancang dengan sentuhan yang lebih modern sehingga aspek kebersihan dan kenyamanan pengunjung menjadi perhatian. Apalagi kami berada di pusat pariwisata, karena tidak jarang wisatawan datang berkunjung ke pasar ini," katanya.
Dengan demikian, kata dia, masalah kebersihan dan penataan lingkungan pasar menjadi prioritas utama.
"Ke depan keberadaan Pasar Sindu diharapkan mampu menghilangkan kesan kumuh pasar tradisional," ucapnya.
Plt Kepala Pasar Sindu Made Sudana mengatakan, program revitalisasi itu diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp3,5 miliar.
"Jumlah pedagang yang dapat ditampung mencapai 361 pedagang yang sebagian besar merupakan masyarakat lokal," ucapnya.
Dari jumlah tersebut, kata dia, sebanyak 150 pedagang ditampung di los dan 78 menempati toko.
Ia mengatakan, untuk pedagang di los ditata sesuai dengan jenis dagangan yang di jual sehingga masyarakat lebih mudah untuk berbelanja.
"Kami menata pedagang seperti itu dengan harapan konsumen akan mudah bertransaksi dan petugas mudah membersihkan sekitar pasar setelah pasar itu tutup," ujarnya.
Los dalam pasar Sindu menurut Sudana, terbagi menjadi tiga unit yaitu los A khusus untuk para pedangang menjual alat upacara dan buah, los B untuk pedagang menjual sembako dan jajan Bali. Sedangkan los C untuk pedagang menjual daging.
Setiap los di pasar tersebut disediakan tiga set bak sampah yang diperuntukan sampah organik, plastik dan sisa makanan.
"Yang terpenting dalam pengolahan limbah, Pasar Sindu telah menggunakan pengolahan limbah seperti hotel," katanya.
Dikatakan, semua limbah hasil pasar diolah, kemudian digunakan untuk keperluan lain seperti menyiram tanaman.
"Penerapan pengolahan limbah ala hotel di Pasar Sindu, mungkin salah satu contoh pasar tradisional di Indonesia," kata Sudana.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2010
"Dengan adanya revitalisasi pasar tradisional tersebut, kita berharap ke depannya mampu bersaing dengan pasar modern," katanya di Sanur, Bali, Rabu.
Di sela-sela peresmian revitalisasi Pasar Sindu Sanur, ia menyatakan, Pemerintah Kota Denpasar telah berupaya melakukan revitalisasi dan penataan pasar-pasar tradisional di wilayahnya.
"Tiga pasar tradisional yang telah direvitalisasi, yaitu Pasar Renon, Panjer dan Pasar Sindu Sanur," katanya.
Ia juga mengajak aparat desa dan kelurahan yang memiliki pasar desa untuk bersama-sama melakukan revitalisasi, sehingga ke depannya dapat bersaing dengan pasar modern.
"Dengan program revitalisasi pasar tradisional, saya optimistis pasar tradisional akan mampu bersaing dengan pasar modern, karena pasar tersebut telah memiliki segmen konsumen tersendiri," ucapnya.
Sementara Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) Ida Bagus Sidharta Putra mengatakan, Pasar Sindu yang dibangun berdasarkan swadaya dari para pedagang dan YPS, dibagi dalam tiga peruntukan, yaitu pasar pagi, pasar seni dan pasar senggol (food court).
"Pasar Sindu ini sengaja kami rancang dengan sentuhan yang lebih modern sehingga aspek kebersihan dan kenyamanan pengunjung menjadi perhatian. Apalagi kami berada di pusat pariwisata, karena tidak jarang wisatawan datang berkunjung ke pasar ini," katanya.
Dengan demikian, kata dia, masalah kebersihan dan penataan lingkungan pasar menjadi prioritas utama.
"Ke depan keberadaan Pasar Sindu diharapkan mampu menghilangkan kesan kumuh pasar tradisional," ucapnya.
Plt Kepala Pasar Sindu Made Sudana mengatakan, program revitalisasi itu diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp3,5 miliar.
"Jumlah pedagang yang dapat ditampung mencapai 361 pedagang yang sebagian besar merupakan masyarakat lokal," ucapnya.
Dari jumlah tersebut, kata dia, sebanyak 150 pedagang ditampung di los dan 78 menempati toko.
Ia mengatakan, untuk pedagang di los ditata sesuai dengan jenis dagangan yang di jual sehingga masyarakat lebih mudah untuk berbelanja.
"Kami menata pedagang seperti itu dengan harapan konsumen akan mudah bertransaksi dan petugas mudah membersihkan sekitar pasar setelah pasar itu tutup," ujarnya.
Los dalam pasar Sindu menurut Sudana, terbagi menjadi tiga unit yaitu los A khusus untuk para pedangang menjual alat upacara dan buah, los B untuk pedagang menjual sembako dan jajan Bali. Sedangkan los C untuk pedagang menjual daging.
Setiap los di pasar tersebut disediakan tiga set bak sampah yang diperuntukan sampah organik, plastik dan sisa makanan.
"Yang terpenting dalam pengolahan limbah, Pasar Sindu telah menggunakan pengolahan limbah seperti hotel," katanya.
Dikatakan, semua limbah hasil pasar diolah, kemudian digunakan untuk keperluan lain seperti menyiram tanaman.
"Penerapan pengolahan limbah ala hotel di Pasar Sindu, mungkin salah satu contoh pasar tradisional di Indonesia," kata Sudana.(*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2010