Denpasar (ANTARA) -  

Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) melalui Terminal BBM Sanggaran melanjutkan pemberdayaan wirausaha kepada penyandang disabilitas dan penyintas skizofrenia di Denpasar memaknai peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118.

“Ini menegaskan kembali komitmen mewujudkan kemandirian bangsa yang seutuhnya, kemandirian yang tidak meninggalkan siapapun di belakang termasuk disabilitas dan penyintas skizofrenia,” kata Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi di Denpasar, Rabu.

Pihaknya menjalankan inisiatif pemberdayaan tahap ke-IV yaitu Difareneur (Difel Cafe) dan Skizopreneur atau rumah berdaya.

Ia menjelaskan program DIFEL (Disability and Female Empowerment Leader) Cafe dan gerakan Skizopreneur di Rumah Berdaya hadir sebagai respons strategis untuk mengatasi hambatan struktural, stigma sosial, dan rendahnya partisipasi kerja formal bagi penyandang disabilitas serta penyintas skizofrenia di Kota Denpasar. 

Melalui penyediaan ruang kerja inklusif di unit usaha bersama dan pengembangan model usaha mikro mandiri, program intervensi ekonomi inklusif ini telah berhasil meningkatkan kemandirian finansial peserta, menciptakan lingkungan kerja yang adaptif, dan menjadikan DIFEL Cafe sebagai model praktik terbaik dalam pemberdayaan masyarakat rentan di tingkat lokal.

Evaluasi mendalam pada akhir fase sebelumnya menunjukkan bahwa penguatan pada aspek tata kelola menjadi kunci utama menghindari stagnasi operasional.

Sementara itu, Ketua KUBE Gantari Jaya Graha Nawasena I Nyoman Juniarta mengungkapkan rasa optimisme dan kesiapan kelompoknya untuk naik kelas menuju pengelolaan yang lebih mandiri.

"Kami di KUBE Gantari Jaya Graha Nawasena sangat merasakan dampak positif pendampingan dari Pertamina. Kehadiran DIFEL Cafe membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk produktif dan mandiri. Masuknya program Tahap IV yang fokus pada penyusunan SOP usaha, perbaikan layanan, dan pemenuhan sertifikasi halal ini adalah langkah besar yang kami butuhkan untuk menepis stigma dan membuktikan bahwa manajemen operasional kami bisa dikelola secara profesional layaknya bisnis modern komersial," ujar I Nyoman Juniarta.

Sementara itu, unit Skizopreneur di Rumah Berdaya terus melanjutkan roda bisnisnya pada lini produksi dupa dan layanan cuci motor. 

Pertamina memandang penguatan strategi pemasaran digital (marketing strategy), tata kelola keuangan sederhana, serta legalitas usaha mutlak diperlukan agar produk dupa dan layanan jasa yang dihasilkan mampu menjangkau pangsa pasar yang lebih luas serta berdaya saing tinggi.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Program Skizopreneur Rumah Berdaya I Nyoman Sudiasa turut menekankan pentingnya aspek legalitas dan perluasan pasar ini sebagai instrumen pemulihan psikososial yang berkelanjutan bagi para penyintas.

"Bagi para penyintas gangguan kesehatan mental di Rumah Berdaya, program Skizopreneur bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan ruang terapi psikososial dan pemulihan martabat. Melalui lini produksi dupa dan cuci motor, teman-teman penyintas membuktikan bahwa mereka mampu berdaya. Intervensi perbaikan legalitas usaha serta penguatan strategi pemasaran dari Pertamina pada Tahap IV ini sangat krusial agar produk kami mampu bersaing secara stabil di pasar yang lebih luas dan membawa kemandirian jangka panjang," jelas I Nyoman Sudiasa.



Pewarta: Redaksi
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026