Nusa Dua (Antara Bali) - Enam jenis ikan tangkap yang menjadi komoditas ekspor andalan diusulkan memperoleh sertifikat dari Dewan Penata Layanan Kelautan (The Marine Stewardship Council/MSC) agar bisa diterima di pasar global.

"Ada enam jenis ikan yang kami ikutkan sertifikasi MSC, yakni cakalang, tuna mata besar, tuna sirip kuning, rajungan, kakap merah, dan kerapu," kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut P Hutagalung di sela-sela Konferensi Perikanan Dunia di Nusa Dua, Bali, Selasa.

Ia menilai sertifikasi itu sangat penting karena tuna dan cakalang memberikan kontribusi sekitar 18 persen dari total ekspor perikanan selama 2013 senilai 4,2 miliar dolar AS.

"Sertifikasi ini sekaligus untuk program perbaikan sektor perikanan secara berkesinambungan. Apalagi sekarang importir selalu mempertanyakan sertifikat MSC untuk memastikan, apakah ikan-ikan yang ditangkap itu memperhatikan kelestarian lingkungan," ujarnya.

Sampai saat ini belum satu pun perusahaan perikanan di Indonesia yang mendapatkan sertifikat MSC. Namun pada konferensi kedua di Nusa Dua itu, sudah ada lima perusahaan yang ikut program sertikasi, salah satunya dari Bali.

Menurut Saut, selain mahal, untuk mendapatkan sertifikat itu perusahaan dan mitranya dari kalangan nelayan harus melalui proses pengujian yang sangat ketat.

Apalagi dari enam juta nelayan dan pembudidaya ikan di Indonesia berada pada skala kecil. Bahkan untuk perikanan tangkap, dari sekitar 560 ribu unit kapal yang beroperasi di perairan wilayah Indonesia, termasuk di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia sekitar 98 persen berukuran di bawah 30 gross ton sehingga sertifikasi itu menjadi beban tersendiri.

"Saat pertama kali kami perkenalkan sertifikasi ini pada 2008, banyak perusahaan dan nelayan yang demo. Sekarang kesadaran untuk sertifikasi itu mulai tumbuh. Bahkan, perusahaan mulai mengajak rekan-rekannya untuk ikut sertifikasi," ujarnya.

Ia menargetkan dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan sudah ada perusahaan perikanan di Indonesia yang mengantongi sertifikat MSC.

Untuk merealisasikan program tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong mitra kerja nelayan mengikuti program sertifikasi itu.

"Kami tidak ingin buru-buru dulu karena biayanya besar dan membebani perusahaan. Beruntung beberapa perusahaan dan nelayan mendapatkan bantuan dari Anova (perusahaan penyuplai perikanan untuk pasar Eropa dan Amerika Serikat) dan WWF (organisasi nonpemerintah internasional yang peduli terhadap lingkungan) mendukung pendanaan sertifikasi," kata Saut.

Meskipun tak satu pun ikan dan perusahaan eksportir yang mengantongi sertifikat MSC, pasar global masih memberikan kesempatan bagi Indonesia.

"Rupanya mereka melihat konsisten dan komitmen perusahaan perikanan di Indonesia untuk mendapatkan sertifikat itu, meskipun sampai sekarang masih dalam proses," ujarnya.

Pada 2013, nilai ekspor cakalang dan ikan tuna mencapai 765 juta dolar AS atau setara 660 ribu ton dan rajungan 369 juta dolar AS.

Pasar utama cakalang dan ikan tuna adalah Uni Eropa yang mampu menghasilkan devisa senilai 180,2 juta dolar AS, Jepang 170,4 juta dolar AS, dan Amerika Serikat 113,8 juta dolar AS.

"Betapa pentingnya kontribusi cakalang, tuna, dan rajungan sehingga kami ikutkan program sertifikasi sekaligus untuk menjaga citra produk perikanan nasional di pasar global," kata Saut menambahkan.

Sebagai lembaga ekolabel perikanan internasional di negara-negara berkembang, MSC memastikan ikan yang dipasarkan di dunia ditangkap tanpa merusak lingkungan dan berkesinambungan. (WDY)

Pewarta: Oleh M. Irfan Ilmie

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014