Denpasar (Antara Bali) - Bali meraih devisa dari ekspor gerabah (furniture) sebesar 28,17 juta dolar AS selama tahun 2013, menurun 19,08 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 34,81 juta dolar AS.

Namun dari segi pengapalan matadagangan sentuhan unsur seni itu meningkat 67,10 persen dari 9,99 juta unit pada 2012 menjadi 16,69 juta unit pada tahun 2013, kata Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Bali, I Ketut Teneng di Denpasar, Sabtu.

Ia mengatakan furniture merupakan salah satu dari 17 jenis hasil kerajinan skala rumah tangga di Bali yang menembus pasaran mancanegara.

Komoditas hasil kreativitas perajin lainnya yang menembus pasaran luar negeri meliputi kerajinan anyaman, bambu, batu padas, keramik, kerang dan kerajinan kulit.

Ketut Teneng menjelaskan ekspor furniture mampu memberikan kontribusi sebesar 5,30 persen dari total ekspor Bali mencapai 486,65 juta dolar AS selama 2013, meningkat tipis dibanding tahun sebelumnya 481,83 juta dolar AS.

Ekspor gerabah maupun dan hasil kerajinan lainnya berfluktuasi sangat dipengaruhi oleh kondisi pasaran luar negeri, meskipun secara umum kerajinan hasil sentuhan tangan-tangan terampil perajin Bali tetap mendapat perhatian konsumen luar negeri.

Ke depan perolehan devisa dari hasil kerajinan furniture diharapkan lebih meningkat, mengingat perekonomian global mulai membaik serta perajin berusaha meningkatkan mutu dan memperbanyak rancang bangun (desain) sesuai permintaan pasaran luar negeri, harap Ketut Teneng.

Gerabah itu selain diekspor langsung ke luar negeri sesuai pesanan, juga banyak yang dibeli oleh wisatawan mancanegara seusai menikmati liburan di Pulau Dewata.

Dari sekian banyak persediaan matadagangan yang menonjolkan unsur seni, ada di antaranya gentong berukuran besar yang dibuat artistik dari tanah lihat oleh masyarakat Banyumelek Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Gerabah buatan perajin Lombok yang dipasarkan lewat Bali hingga kini masih menjadi incaran para kolektor barang seni luar negeri dan yang memang sejak dulu masuk pasar ekspor lewat Bali.

Meskipun pembelinya sekarang mulai berkurang, kemungkinan pembeli langsung bertransaksi lewat daerah itu sehingga tidak lagi di Bali.

Barang seni asal Lombok cukup bagus karena diproduksi memanfaatkan rancang bangun (desain) yang semakin berkembang setelah mendapat pembinaan dari tim ahli dari Jerman dan Belanda, sehingga mampu mengikuti selera konsumen luar negeri.

Gerabah etnik ukuran besar yang dipajang di toko-toko seni di sepanjang jalur wisata Tohpati di Jalan Ida Bagus Mantra hingga ke Nusa Dua, hampir semuanya adalah produksi pengrajin dari daerah Banyumelek Lombok.

Sedangkan gerabah produksi masyarakat Bali umumnya yang ukuran lebih kecil, tetapi punya nilai seni tinggi, sehingga banyak pula yang diboyong oleh masyarakat internasional terutama ke Italia, Spanyol dan Jerman.

Barang seni buatan masyarakat Bali bentuknya lebih kecil karena dihiasi arnamen seni budaya Bali, harganya jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan gerabah buatan dari Lombok yang diproduksi secara polos. (WDY)

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014