Jakarta (Antara Bali) - Pejabat pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan kampanye dan promosi wisata dengan menggunakan sosial media untuk menyasar segmen komunitas online berisiko tinggi bila pemerintah tidak benar-benar siap untuk menerima masukan dari komunitas-komunitas tersebut.

"Komunitas dalam sosial media adalah komunitas paling jujur, kalau bagus mereka akan katakan bagus, kalau jelek mereka tidak akan segan-segan mengatakan jelek. Jadi ini tentu ada risikonya," kata Direktur Pencitraan Indonesia pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ratna Suranti di Jakarta, Senin.

Oleh karena itu, pihaknya menyadari betul konsekuensi logis yang mungkin akan ditanggung dengan berkampanye melalui sosial media.

Menurut dia, komunitas online pada dasarnya adalah komunitas yang paling obyektif yang pernah ada sehingga justru dapat dijadikan indikator kesiapan pemerintah dan pengelola destinasi wisata terkait kesiapan mereka melayani wisatawan yang berkunjung.

"Jadi memang kita harus siap, kalau kita tidak siap perhitungkan dulu untuk promosi lewat sosial media. Komunitas ini pada dasarnya tidak memiliki tendensi apapun, hanya jujur terhadap apa yang mereka lihat atau rasakan," katanya. (IGT)

Pewarta: Oleh Hanni Sofia

Editor : I Gusti Ketut Agung Wijaya


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2013