Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS.
"Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 (dolar AS per barel), kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72," kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Selain itu, kebuntuan dalam perundingan antara AS dan Iran turut meningkatkan ketidakpastian di pasar global.
Ketegangan antara Iran dan Israel juga memperburuk sentimen pasar.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi.
Kenaikan harga energi, lanjutnya, berpotensi mempertahankan tekanan inflasi AS dan membuat bank sentral AS alias The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan masih berpeluang menaikkan suku bunga sekali lagi pada tahun ini.
"Kita lihat bahwa salah satu pejabat dari bank sentral AS, Hammack, yang dia mengatakan bahwa mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak meredah. Artinya apa? Bahwa ini yang mengindikasikan bahwa kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026," ujar Ibrahim.
Kemudian dari sisi domestik, Ibrahim menilai tingginya harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Selain itu, kebutuhan valas untuk pembayaran dividen dan kewajiban utang yang jatuh tempo juga menambah tekanan terhadap rupiah.
Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat mengalihkan simpanan ke instrumen berbasis valas yang turut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri.
Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Ibrahim memandang pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi domestik dan daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan.
Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pasokan barang, terutama barang impor yang terdampak kenaikan nilai tukar, serta memperkuat program bantuan sosial (bansos) yang tepat sasaran.
Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat sektor riil dengan mendorong industrialisasi, pengembangan ekonomi biru, serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2026