Di tengah deru kehidupan urban yang serba cepat dan tuntutan produktivitas yang seolah tak ada habisnya, kebahagiaan sering kali dianggap sebagai sebuah "pencapaian besar" yang letaknya jauh di masa depan.
Padahal, rahasia untuk memulihkan kesehatan mental justru sering kali tersembunyi di balik hal-hal kecil yang ada di depan mata.
Dewa Ayu Eka Purba Dharma Tari, seorang Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, membagikan perspektif tentang bagaimana otak manusia merespons stimulasi sederhana untuk memperbaiki suasana hati (mood) secara instan.
"Sebenarnya dalam psikologi, hal-hal kecil justru punya pengaruh besar. Otak manusia sangat responsif terhadap pengalaman sederhana yang memberi rasa nyaman dan aman," ujar Eka di Denpasar, Jumat.
Menurut perempuan yang akrab disapa Eka ini, momen-momen seperti sapaan hangat di pagi hari, menyesap kopi dengan tenang, hingga memandang langit sore, bukan sekadar aktivitas selingan.
Hal tersebut adalah pemicu biologis bagi tubuh untuk melepaskan hormon kebahagiaan.
Bahagia yang Diupayakan
Eka menekankan kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan, melainkan hasil dari sebuah kesadaran dan upaya personal.
"Bahagia itu selain sadar, juga mesti diusahakan. Kita upayakan untuk diri sendiri, dan hasilnya akan kembali untuk kekuatan mental kita juga," tuturnya.
Dalam praktik regulasi emosi, Eka menyarankan beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan siapa saja saat otak mulai merasa jenuh atau berada dalam "mode stres". Aktivitas tersebut meliputi:
• Sentuhan Afeksi: Mengobrol dengan orang tersayang atau bermain dengan hewan peliharaan.
• Sensorik: Mencium aroma terapi yang menenangkan atau mendengarkan musik favorit.
• Lingkungan: Merapikan ruang kerja atau sekadar berjemur di bawah sinar matahari pagi.
Ritual 15 Menit Tanpa Distraksi
Menyambut akhir pekan, Eka merekomendasikan sebuah latihan sederhana bagi masyarakat untuk "hadir utuh" dalam momen saat ini (mindfulness). Ia menyarankan penyisihan waktu minimal 10 hingga 15 menit tanpa gangguan gawai.
"Bisa sambil minum teh, jalan santai, atau duduk di teras tanpa memegang ponsel terus-menerus. Kelihatannya sepele, tapi ini sangat efektif membantu pikiran lebih rileks dan menurunkan kelelahan mental," tambahnya.
Menemukan "Kompas Batin"
Lebih dalam lagi, Eka menyoroti fenomena masyarakat modern yang kerap terjebak dalam pengejaran validasi dan standar kebahagiaan orang lain. Hal ini, menurutnya, menjadi penyebab utama mengapa banyak individu merasa hampa meski telah mencapai banyak hal.
Dalam pendekatan psikologi positif, ia memperkenalkan konsep living values atau nilai-nilai hidup sebagai kompas batin. Kebahagiaan yang paling sehat bukan sekadar mencari kesenangan sesaat, melainkan merasa cukup dan terhubung dengan makna hidup.
"Sering kali yang membuat hati lelah bukan karena hidup kita kurang bahagia, tetapi karena kita terlalu jarang berhenti untuk menyadari bahwa banyak hal baik sudah ada di sekitar kita," jelas Eka.
Dengan melatih kesadaran diri dan memperlambat ritme hidup sesekali, seseorang akan lebih kuat secara psikologis dan tidak mudah kehilangan arah di tengah tekanan hidup yang kian kompleks.
"Bertanyalah pada diri sendiri, 'Apa yang benar-benar bernilai dalam hidup saya?'. Hidup yang selaras dengan nilai-nilai yang diyakini akan membawa ketenangan yang lebih permanen," pungkasnya.
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2026