Denpasar (ANTARA) -
Memelihara hewan kini bukan sekadar hobi, namun telah bergeser menjadi instrumen pendukung kesehatan mental bagi masyarakat, khususnya masyarakat urban.
Data terbaru menunjukkan interaksi dengan hewan peliharaan mampu menjadi obat alami untuk menenangkan hati dan mereduksi stres di tengah tekanan produktivitas yang tinggi.
Fenomena ini didukung oleh data Jakpat 2026 yang mencatat sebanyak 52 persen responden di Indonesia telah memiliki hewan peliharaan.
Menariknya, alasan utama memelihara hewan bagi 63 persen pemilik adalah untuk mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati (mood).
Dalam dunia medis, hubungan ini dikenal sebagai human-animal bond.
Praktisi kesehatan hewan asal Bali, Drh. I Dewa Ayu Dwita, menjelaskan hubungan emosional antara manusia dan hewan peliharaan memiliki dampak nyata secara fisiologis.
"Interaksi dengan hewan dapat membantu menurunkan respons stres. Sentuhan, suara, serta kontak visual dengan hewan yang jinak dapat membuat tubuh lebih rileks" ujar Drh. Dwita.
Hal ini sejalan dengan laporan National Institutes of Health (NIH) yang menyebutkan interaksi tersebut dapat menurunkan kadar kortisol sebagai hormon stres sekaligus membantu menurunkan tekanan darah.
Tren Kucing dan Ikan Hias
Data tahun 2026 menunjukkan keberagaman jenis hewan yang paling banyak dipelihara di Indonesia.
Kucing menempati urutan teratas (75 persen), disusul ikan hias (30 persen), burung (21 persen), anjing (11 persen), serta kelinci dan hamster (8 persen).
Drh. Dwita memaparkan setiap hewan memberikan stimulasi sensorik yang berbeda bagi pemiliknya.
"Kucing yang mendengkur, anjing yang responsif, ikan yang berenang pelan, atau burung yang berkicau dapat memberi efek repetitif yang menenangkan," tambahnya.
Namun, ia menekankan manfaat ini hanya muncul jika pemilik mampu merawat hewan dengan baik.
Waspadai Risiko Kesehatan
Meski bermanfaat bagi mental, Drh. Dwita mengingatkan adanya risiko kesehatan (minus) yang harus diantisipasi.
Ia merujuk pada panduan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang menekankan pentingnya kebersihan lingkungan.
"Alergi bukan hanya datang dari bulu, tetapi bisa dari dander (serpihan kulit), saliva, hingga urine. Selain itu, ada risiko zoonosis seperti Salmonella pada reptil dan unggas, atau psittacosis pada burung," jelasnya.
Ia juga mengingatkan risiko cakaran atau gigitan yang, menurut data CDC, dialami 1 dari 5 orang yang berinteraksi dengan anjing dan membutuhkan perawatan medis.
Pendukung, Bukan Pengganti Terapi
Drh. Dwita menegaskan posisi hewan peliharaan adalah sebagai pendukung kesehatan mental, bukan pengganti terapi medis profesional.
Jika biaya perawatan menjadi beban atau hewan menjadi agresif, hal tersebut justru berpotensi menambah stres bagi pemiliknya.
"Kunci utamanya adalah tanggung jawab. Manfaat penenang hati ini akan optimal jika kita menjaga kebersihan kandang, rutin mencuci tangan, dan memastikan hewan dalam kondisi sehat serta divaksinasi" pungkas Drh. Dwita.
Pewarta: Tim Redaksi Antara BaliEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026