Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan di Denpasar I Gusti Ayu Adhi Aryapatni menyampaikan masih diperlukan langkah edukasi khususnya pada masyarakat desa di Bali terkait penggunaan berbagai jenis obat tradisional.

"Hal ini karena tingkat konsumsi obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat masih tinggi ditemukan di desa-desa di Bali," kata Adhi Aryapatni di Denpasar, Kamis.

Menurut dia, obat tradisional atau yang lebih dikenal sebagai obat herbal tidak boleh mengandung bahan kimia obat.

Namun, realitanya masih banyak yang beredar di masyarakat dan bahkan banyak dikonsumsi karena diyakini dapat menghilangkan keluhan sakit dengan cepat.

"Penggunaan bahan kimia obat pada obat-obat tradisional atau obat herbal tentu akan membahayakan karena dosisnya yang tidak sesuai dan juga tidak berdasarkan diagnosa yang tepat," ujarnya.

Baca juga: 2023, Dinkes Bali promosikan pengobatan tradisional di Renon

Adhi Aryapatni mengatakan semestinya masyarakat curiga ketika setelah mengkonsumsi obat tradisional, keluhan sakit hilang dengan cepat karena yang seperti itu patut dicurigai mengandung bahan kimia obat.

Ia menambahkan dilihat dari indeks kesadaran masyarakat (IKM) di Bali terkait obat dan makanan yang aman saat ini nilainya 84. Nilai IKM ini sudah meningkat dibandingkan sebelumnya dengan nilai 78.

"Tetapi ini masih harus terus dioptimalkan karena kami sudah tentu tidak akan bisa mengawasi semuanya. Suplai produk-produk obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat akan tetap tinggi jika permintaan masyarakat tetap tinggi," ucapnya.

Pihaknya dalam tahun ini melakukan pengujian sampel obat dan makanan sebanyak 3.200 sampel, BBPOM Denpasar juga menggalakkan kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi dengan menggandeng berbagai kalangan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Baca juga: BPOM perkuat pariwisata lewat obat dan kosmetik tradisional

"Kami melakukan edukasi kepada akademisi, pelajar, pramuka dan pihak lainnya yang pada prinsipnya agar masyarakat lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi obat dan makanan yang tidak aman," katanya.

Adhi Aryapatni juga menyebut ada tantangan dalam pengawasan obat-obatan maupun kosmetik berbahaya yang dijual secara daring (online).

BBPOM sudah bekerja sama dengan marketplace terkait pengawasan produk yang dijual online, hanya saja ketika disetop di satu tempat, malah dibuka di lapak penjual lainnya.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2023