Anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika mengajak jajaran pemerintah, pengusaha dan akademisi untuk turut memberikan arah dan panduan pada masyarakat Bali, terkait bisnis yang potensial untuk dikembangkan dalam kondisi dan pasca-pandemi COVID-19 sehingga masyarakat tak tersesat.

"Untuk di Bali, apakah kita masih bisa mengandalkan pariwisata atau bertransformasi yang lain ? Jangan sampai masyarakat kita tersesat," kata Pastika saat melakukan penyerapan aspirasi secara virtual di Denpasar, Rabu.

Meskipun akibat pandemi COVID-19 telah menyebabkan Bali mengalami kontraksi yang dalam, yakni mencapai minus 9,85 persen hingga triwulan I-2021, Pastika mengajak warga Bali untuk tidak pesimis.

"Kita sangat beruntung karena banyak yang cinta pada Bali dan ingin kita segera pulih. Pariwisata memang akan tetap hidup, tetapi nanti bentuk dan modelnya yang bagaimana, tentu tidak akan sama dengan keadaan sebelum pandemi," ucap mantan Gubernur Bali dua periode itu.

Baca juga: Wapres dorong Bali capai "herd immunity" untuk pariwisata

Menurut Pastika, sekolah dan perguruan tinggi juga harus sudah mereformasi diri dan kurikulumnya, dalam menyiapkan SDM Bali yang memang dibutuhkan sesuai dengan kondisi kekinian dan masa depan.

"Pandemi telah menyebabkan Bali mengalami kerusakan hingga mengalami kontraksi yang paling dalam dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. Untuk itu, dari sisi bisnis kita harus mampu mengendalikan kerusakannya agar tidak lebih dalam lagi," ucapnya.

Pastika mengingatkan, meskipun pandemi menimbulkan kesengsaraan, namun ada negara dan sejumlah sektor yang malah menjadi kaya raya karena pandemi dari hasil penjualan vaksin, APD, oksigen, obat-obatan dan sebagainya. "Bisa 'nggak kita ikut-ikutan kaya raya seperti itu," ujarnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho saat menjadi narasumber dalam penyerapan aspirasi anggota DPD Made Mangku Pastika di Denpasar. ANTARA/Rhisma.


Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan meskipun hingga triwulan I-2021 itu Bali masih mengalami kontraksi, namun sesungguhnya mulai April dan Mei lalu sudah mulai membaik dan agak turun lagi akibat pemberlakuan PPKM Darurat.

"PPKM Darurat ini dapat dianalogikan sebagai jamu pahit dalam jangka pendek, tetapi menjadi obat mujarab dalam jangka panjang untuk membangkitkan perekonomian," ujarnya.

Baca juga: Mangku Pastika: Pengusaha Bali harus kreatif-inovatif hadapi pandemi

Menurut dia, kontribusi Bali yang begitu besar dalam pariwisata nasional dengan menyumbang sekitar 55,26 persen dari total devisa di Tanah Air itu tidak boleh dinaifkan. Sehingga sudah sepatutnya pemerintah pusat dapat memberikan perhatian lebih untuk pemulihan Bali.

"Untuk tahun ini, pemerintah pusat memberikan Bali alokasi sertifikasi CHSE sebanyak 1.200, sebanyak 200 diantaranya untuk hotel dan 1.000 lainnya untuk non-hotel seperti destinasi wisata hingga desa wisata. Ini yang kami dorong sebagai salah satu upaya bersiap untuk menerima wisatawan," ucapnya.

Trisno mengatakan semua pihak harus bersatu padu untuk mempercepat pemulihan dan kebangkitan Bali

"Ekonomi Bali tidak bisa lagi hanya bertumpu pada sektor pariwisata, tetapi untuk transformasi ekonomi Bali hendaknya mengembangkan sistem pertanian modern, industri kreatif, refocusing pariwisata, pendidikan dan ekonomi digital," ujar Trisno pada acara yang juga menghadirkan perwakilan OJK Bali-Nusra dan Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha itu.

Untuk membantu UMKM di Bali menguasai digitalisasi, pihaknya juga selama ini telah rutin memberikan pendampingan dan pelatihan, sehingga nantinya mereka bisa bertransaksi dengan menggunakan marketplace.

Baca juga: Disperindag: Perkuat "branding" beras Bali agar tak kalah saing

Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Bali Prof Dr Ida Bagus Raka Suardana mengatakan, berkaca dari dampak pandemi yang telah membuat Bali terkontraksi sangat dalam, maka ekonomi Bal di masa mendatang harus seimbang.

"Pariwisata, pertanian dalam arti luas, ekonomi kreatif dan digitalisasi harus seimbang. Kita tidak bisa hanya bergantung dari pariwisata saja. Sebelum pandemi, kontribusi sektor tersier di Bali itu mencapai 68 persen, sektor primer 15,68 persen dan 16,32 persen sektor sekunder," katanya.
 
Anggota DPD Made Mangku Pastika dalam penyerapan aspirasi terkait transformasi ekonomi Bali di Denpasar. ANTARA/Rhisma.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2021