Anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika berdialog dengan I Gusti Putu Raka selaku Ketua Kelompok Tenun Bona Artha Kusuma dari Desa Bona, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, yang usahanya terhenti karena dampak pandemi COVID-19.

"Melalui kegiatan ini, saya ingin mendengar dan menyerap aspirasi secara langsung bagaimana situasi perajin endek kita," kata Pastika mengawali dialog secara virtual dengan salah satu perajin tenun endek itu, dari Denpasar, Senin.

Tenun endek, ujar Pastika, menjadi kerajinan khas dari Bali, dan produk yang asli tidak bisa diproduksi di daerah lain di Tanah Air. "Endek khas kita. Saya nggak lihat endek dimana-mana, kecuali di Jawa, yang dicap itu, bukan tenun. Mereka tiru-tiru biar murah," ucap mantan Gubernur Bali dua periode itu.

Baca juga: Gubernur Bali minta ASN gunakan tenun endek untuk UMKM

Selain di Bali, kata Pastika, tenun seperti endek Bali itu bisa ditemukan di Odisha, salah satu negara bagian di India Selatan. "Kebetulan saya sempat ke sana juga di India Selatan, ke tempatnya Rsi Markandeya, di Odisha, India Selatan," ujar anggota Komite 2 DPD itu

Di Odisha itu juga ada Sungai Mahanadi dan setiap tahun di sana digelar Bali Yatra Festival. "Jadi, rupanya nenek moyang kita, Rsi Markandeya bawa Hindu itu dari situ, sekaligus juga membawa kemampuan bertani dan menenun," ucapnya.

Oleh karena itu, tambah Pastika, tenun endek Bali sebenarnya juga warisan Hindu dari India . Di India, di Fashion Museum Industry-nya tak hanya menampilkan koleksi industri tekstil India, namun juga menyimpan alat tenun tradisional persis dengan yang digunakan perajin tenun endek di Bali.

Pastika berharap, dengan kita tahu sejarahnya endek, juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bali mengapa harus menggunakan endek. "Sewaktu saya menjadi gubernur, tidak ada staf yang punya batik. Jadi ketika ada undangan judulnya batik lengan panjang, harus dibaca endek tangan panjang. Harus pakai endek," ucapnya.

Baca juga: Tenun Endek, SE Gubernur atau pelestarian budaya

Dalam kesempatan itu, dia juga mengapresiasi kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster terkait penggunaan kain tenun endek Bali/kain tenun tradisional Bali setiap Selasa mulai 23 Februari 2021 bagi para ASN di lingkungan pemerintah daerah dan instansi vertikal, karyawan BUMN hingga unsur perguruan tinggi mengacu pada Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2021 itu.

"Walaupun waktunya kurang pas, namun apa yang Beliau (Gubernur Bali-red) cita-citakan itu bagus buat kita," ucapnya.

 

I Gusti Putu Raka (kanan) selaku Ketua Kelompok Tenun Bona Artha Kusuma saat menyampaikan aspirasi kepada anggota DPD Made Mangku Pastika (Antaranews Bali/Rhisma/2021)



Sementara itu, I Gusti Putu Raka selaku Ketua Kelompok Tenun Bona Artha Kusuma dari Desa Bona, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali mengaku karena pandemi COVID-19 ini, sudah setahun anggota kelompoknya berhenti berproduksi.

Agar bisa bertahan hidup, anggota kelompoknya menjadi beralih profesi sampai mengambil profesi serabutan, bahkan ada yang rela menjadi tukang pengangkut pasir.

"Kami berharap pandemi bisa segera berakhir sehingga para perajin bisa kembali berkreasi. Sejauh ini ada yang menenun sedikit-sedikit untuk mengisi waktu, tetapi itu dilakukan di rumah masing-masing," ucapnya.

Baca juga: Pemkot Denpasar ajak generasi milenial gunakan tenun Endek (video)

Sebelum pandemi, untuk proses produksinya, benang dan warna yang digunakan untuk menenun dibelinya dari Kota Denpasar. Oleh pedagang di Denpasar, benang dan warna ada yang didatangkan dari India dan Jepang.

I Gusti Putu Raka menambahkan, anggota kelompok yang dipimpin sebelumnya pernah mencapai 120 orang dan terakhir sebelum pandemi ada 80 orang. "Namun, sekarang sudah total berhenti," ujarnya.

Usaha yang telah dirintis sejak 1975 itu, mulai banyak menerima pesanan sejak 1985. Tak hanya memenuhi permintaan lokal Bali, tenun yang diproduksi juga banyak memenuhi permintaan pasar nasional bahkan diekspor hingga ke Jerman dan sejumlah negara lainnya.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2021