Akademisi Institut Seni Indonesia Denpasar Dr I Kadek Suartaya, S.SKar, MSi berpandangan para seniman harus mampu beradaptasi dengan perkembangan situasi dan beralih media untuk menampilkan ekspresi berkesenian di tengah pandemi COVID-19.

"Memang menjadi tantangan bagi para seniman untuk bisa tetap eksis di tengah pandemi. Bagi seniman yang sudah melek teknologi dan aplikasi virtual, ini merupakan peluang yang bagus," kata Kadek Suartaya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Timbang Rasa bertajuk "Pentas Seni Sastra dan Pertunjukan Virtual" serangkaian dengan Festival Seni Bali Jani II di Denpasar, Selasa.

Di awal-awal kemunculan pandemi, menurut dia, tidak sedikit seniman merasa kecewa dan frustasi karena tidak ada lagi panggung-panggung pementasan.

Apalagi di Bali, para seniman yang sudah bersiap-siap untuk bisa tampil dalam ajang bergengsi Pesta Kesenian Bali (PKB) yang sedianya digelar pada pertengahan Juni 2020 harus menelan "pil pahit" karena PKB akhirnya dibatalkan penyelenggaraannya oleh pemprov setempat.

"Kemudian tak ada lagi pementasan seni untuk wisatawan karena memang tidak ada wisatawan yang datang sehingga ada sejumlah seniman yang mencoba beralih profesi dengan berjualan. Karena memang bukan dunianya di sana (berdagang, red.), jadi banyak yang gagal," ujar pria yang juga seniman karawitan itu.

Menurut Suartaya, seniman sebagai insan kreatif harus mampu beradaptasi dan beralih ke media virtual. Ketika di panggung hanya ditonton mungkin oleh beberapa ratus orang, namun ketika pentas virtual, tentunya bisa ditonton oleh ribuan orang bahkan lebih.

Jika berkaca dari sejarah para seniman Bali, lanjut dia, sesungguhnya para seniman tradisi telah menunjukkan kemampuan beradaptasi dan beralih media.

"Misalkan saat baru munculnya radio. Sebelumnya itu tidak dikenal pementasan untuk kesenian Arja yang direkam, kemudian didengarkan. Namun dengan perkembangan radio, masyarakat bisa membayangkan tokoh raja, yang berperan antagonis dan protagonis dengan hanya mendengarkan suara pemerannya di radio," katanya.

Demikian juga dengan kemunculan media televisi, para seniman Bali pun telah mampu beradaptasi.

Oleh karena itu, ujar Suartaya, kini di tengah pandemi, mau tidak mau seniman tradisi harus mampu beralih ke media virtual yang tentunya dalam proses penggarapan tetap harus mematuhi protokol kesehatan.

"Pada seni modern, dalam seni sastra misalnya, karena pandemi ini telah banyak memunculkan pementasan, hingga perlombaan atau kompetisi baca puisi secara virtual," ucap Suartaya.

Sementara itu, Seno Joko Suyono, pembicara berikutnya yang terhubung secara virtual berpandangan pandemi COVID-19 telah banyak memunculkan estetika baru.

"Sejumlah seniman ternama melalui pementasan seni virtualnya bahkan mengeksplorasi ruang-ruang personalnya di rumah untuk disampaikan pada publik," ucapnya.

Seno yang juga jurnalis itu, mengatakan pandemi COVID-19 telah banyak memunculkan festival seni virtual yang menarik, seperti festival yang digelar Teater Garasi dari Yogyakarta.

"Festival tersebut menampilkan pertunjukan yang menarik dengan melibatkan para aktor tidak saja dari Indonesia, tetapi juga sejumlah negara di Asia, seperti dari Srilanka, Vietnam, Jepang, dan Taiwan," ucapnya.

Rencananya, pada 2020 mereka akan pentas keliling ke berbagai daerah di Indonesia dan Asia. Tetapi karena pandemi, akhirnya ditransformasikan ke dalam pentas daring atau virtual yang menarik.

Seno melihat para seniman kontemporer khususnya, telah memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi untuk beralih ke media virtual.
Contoh kompetisi baca puisi yang dilaksanakan secara virtual (Antaranews Bali/Rhisma/2020)

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2020