Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Undiksha Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, sama-sama meraih medali dalam ajang International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Expotion (IPITEx) 2020 di Thailand pada 2-6 Februari 2020.

Wakil Rektor III Undiksha Prof. Dr. I Wayan Suastra, M.Pd., di Singaraja, Sabtu, menjelaskan mahasiswa FK Undiksha yang terdiri dari Made Suda Cakra Wibawa, Ketut Alit Wira Adi Kusuma, Hendry Juniartha, Tharissa Caraswathi Sugita, dan A.A.A Lie Lhianza Mahendra Putri, berhasil menyabet perak dalam ajang IPITEx 2020 itu.

Sementara itu, mahasiswa program studi Pendidikan Fisika, Fakultas MIPA, yang terdiri dari I Wayan Arnata, Cokorda Gde Krisparinama dan Ni Made Radha Jiwantini berhasil menyabet medali perunggu berkat produk skincare.

"Prestasi ini tidak hanya penting untuk meningkatkan daya saing mahasiswa, tetapi juga universitas, baik tingkat nasional maupun internasional. Klasterisasi perguruan tinggi tidak bisa dilepaskan dari prestasi mahasiswa. Tentu capaian ini kami apresiasi," kata Wayan Suasta.

Baca juga: FK Undiksha raih medali perak pada "AIG Competition" di Singapura

Menurut Suasta, Undiksha sangat fokus terhadap peningkatan prestasi mahasiswa. Keikutsertaan dalam kompetisi dilakukan seleksi secara ketat. "Kompetisi ini disiapkan, jadi Undiksha tidak sekadar mengirim karena kami ingin mendapatkan hasil maksimal," katanya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa FK Undiksha, Suda Cakra Wibawa, menjelaskan timnya membuat produk dalam bentuk gel yang mampu mengobati SAR (Stomatitis Apthous Reccurent) yang disebabkan Candida albicans dari daun mangga.

Munculnya ide itu dilandasi dengan kearifan lokal masyarakat Bali yang tinggi serta memperhatikan dampak limbah bagi lingkungan. Guna mendapatkan hasil terbaik, dilakukan penelitian secara mendalam mengenai kandungan aktif dari daun mangga yang secara kimiawi sudah terbukti mampu menghambat pertumbuhan candida albicans melalui beberapa tes.

"Kami melakukan penelitian sekitar lima bulan. Senyawa dari daun mangga dikemas menjadi bentuk gel agar praktis dan efisien digunakan masyarakat," jelasnya.

Baca juga: Undiksha cetak mahasiswa berkarakter lewat "outbond"

Pendekatan secara sosioekonomi juga dilakukan untuk membuat produk mudah digunakan. Produk ini diharapkan dapat ditingkatkan dan dapat diterapkan secara nyata dengan melalui berbagai uji klinis.

"Tentu kami menginginkan produk yang dibuat ini dapat memberikan manfaat untuk kesehatan masyarakat," katanya.

Mendapatkan prestasi gemilang itu, tim yang terdiri dari mahasiswa semester II dan IV ini harus bersaing dengan tim dari 23 negara yang terdiri dari ratusan inventions.

"Untuk bisa ikut kompetisi ini, ada seleksi abstrak nasional, lalu setelah lolos masuk tahap administrasi dan selanjutnya ke internasional yang diisi dengan presentasi," katanya.

Baca juga: Tim tenis lapangan Undiksha sabet juara umum LPTK Cup 2019

Ia menambahkan capaian ini juga tidak lepas dari dukungan penuh jajaran Rektorat dan Dekanat FK Undiksha. "Semoga, kedepan kami bisa memberikan prestasi lagi," katanya.

Sementara itu, mahasiswa FMIPA I Wayan Arnata menjelaskan medali perunggu yang diraih timnya karena timnya berusaha menggali potensi lokal dari Bali untuk bisa dikembangkan dan memiliki nilai jual.

Dari situ, tercetus ide untuk mengembakan skincare berbahan VCO dengan kombinasi minyak atsiri. "Produk ini tergolong baru  karena bahan dasarnya VCO ditambah minyak atsiri jepun dan cempaka," jelasnya.

Untuk melahirkan produk inovasi ini, kata Arnata, perlu persiapan yang sangat kompleks, mulai dari pembuatan naskah dan abstrak dengan landasan jurnal-jurnal yang relevan dan mendukung penelitian produk, membuat produk, menguji produk di laboratorium, menguji efektifitas produk untuk menghambat skin aging dengan media kulit ayam.

Selanjutnya, membuat desain kemasan produk, menguji organoleptik produk di kawasan singaraja dengan responden sebanyak 30 orang, dan selanjutnya mendaftarkan produk ke hak cipta.

"Berdasarkan uji lab, produk ini efektif sebagai anti aging. Kmai juga melihat prospek pasar produk ini bagus," katanya.

Pada ajang yang diadakan National Research Council of Thailand (NRCT) di Bangkok International Trade & Exhibition (BITEC) ini, tim ini harus bersaing dengan 514 inventions yang berasal dari 21 negara. "Semoga kedepan semakin banyak lagi produk inovasi yang muncul," katanya.

Sementara itu, Rektor Undiksha, Prof. Dr. I Nyoman Jampel, M.Pd  mengapresiasi prestasi tersebut sekaligus bangga karena FK yang baru berdiri tahun 2018 telah mampu melahirkan Sumber Daya Manusia yang kompetitif.

"Ini capaian yang luar biasa. FK masih sangat muda, tetapi mahasiswanya sudah bisa tampil ditingkat internasional," katanya.

Peluang kompetisi pada ajang yang lebih besar masih terbuka lebar. Oleh sebab itu, Rektor Jampel meminta mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi diri, termasuk yang berasal dari luar FK.

"Kami terus mendorong mahasiswa untuk berprestasi. Apalagi yang mendapat beasiswa," tegasnya.

 

Pewarta: Made Adnyana

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2020