Puluhan siswa PAUD dari berbagai kabupaten/kota se-Bali adu kepiawaian mewarnai tokoh pewayangan Rama yang sedang berusaha memanah kijang, dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali 2020 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar.

"Kegiatan ini menjadi salah satu upaya kami dalam memotivasi anak-anak untuk menggunakan bahasa Bali dan mencintai sastra Bali, khususnya melalui media gambar," kata Kepala Bidang Dokumentasi dan Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Anak Agung Ngurah Bagawinata di sela-sela acara lomba mewarnai tingkat PAUD tersebut, di Denpasar, Kamis.

Pihaknya berharap dengan siswa PAUD diajak mewarnai, mereka menjadi lebih teringat dengan cerita-cerita yang terdapat dalam berbagai karya sastra Bali. "Jadi, anak-anak tidak saja bisa belajar bahasa Bali dengan mendengar dan membaca, tetapi bisa turut melakukan suatu aktivitas yang menyenangkan," ucapnya.

Oleh karena itu, pihaknya sengaja memberikan durasi waktu untuk mewarnai lebih lama dibandingkan dengan perlombaan mewarnai pada umumnya agar anak-anak bisa lebih lama menghayati konsep-konsep bahasa Bali yang tertuang dalam gambar.

"Kalau lomba mewarnai itu biasanya diberikan durasi 1 jam, tetapi untuk lomba ini kami berikan waktu untuk menyelesaikan hingga 1,5 jam," ujar Bagawinata.

Untuk menjaring peserta lomba dari seluruh kabupaten/kota di Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali sebelumnya telah bersurat ke berbagai PAUD di Pulau Dewata. Akhirnya ada 57 peserta yang datang mengikuti perlombaan, meskipun sebelumnya jumlah pendaftar melebihi dari jumlah yang mengikuti perlombaan.

Baca juga: 1 Februari, Bulan Bahasa Bali 2020 dimulai

Perwakilan PAUD yang urung mengikuti lomba, di antaranya dari Kabupaten Jembrana, Karangasem, dan Buleleng. "Mungkin karena faktor jarak yang lumayan jauh ke Denpasar, sehingga anak-anak tidak jadi mengikuti lomba mewarnai ini," ujarnya.

Menurut dia, melalui gelaran Bulan Bahasa Bali tahun ini yang berlangsung dari 1-27 Februari mendatang, Pemerintah Provinsi Bali ingin melibatkan berbagai kelompok umur, mulai dari pesertanya yang menempuh pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi dan masyarakat umum.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dalam kegiatan lomba mewarnai tingkat PAUD ini melibatkan tiga orang dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar sebagai juri, yakni I Made Ruta, Made Bendi Yudha, dan Agus Eka Cahyadi.

"Lomba mewarnai ini menjadi salah satu langkah positif yang telah diambil Pemprov Bali. Dengan ada figur wayang yang harus diwarnai, sekaligus kita dapat memperkenalkan kesenian-kesenian yang ada di Bali," ucap I Made Ruta.

Baca juga: SMAN 3 Denpasar tampilkan teater berbahasa Bali

Pihaknya berharap lomba semacam itu bisa digelar berkelanjutan, bukan hanya untuk tingkat PAUD saja, tetapi baik juga untuk peserta dengan jenjang pendidikannya yang lebih tinggi.

"Kami melihat mental-mental peserta ini bagus, konsentrasinya pun bagus dan tidak mudah terganggu. Di samping itu cara menggoreskan warna memakai krayon pun lancar, dengan berbagai kreativitasnya," ujarnya

Untuk kriteria penilaian lomba mewarnai itu, di antaranya dari sisi bentuk, kreativitas serta keindahan. "Secara umum hasil karya siswa PAUD ini bagus-bagus dengan berbagai kreasi permainan warnanya," kata Ruta.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2020