Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, meminta Gus Muwafiq berhati-hati dalam menyampaikan dakwah dan tetap bersemangat untuk terus berdakwah.

"Beliau silaturahim dan tabayyun supaya umat tidak salah persepsi dengan ceramahnya. Tadi disampaikan beliau, videonya dipotong-potong, padahal sudah dijelaskan Rasulullah tidak seperti manusia biasa, sudah dijelaskan tapi dipotong-potong," kata Pengasuh PP Lirboyo Kediri KH An'im Falahudin Mahrus di Kediri, Senin.

Ia juga mengatakan, Gus Muwafiq juga menjelaskan tentang kata-kata rembes saat ceramah, padahal menurut Gus Muwafiq maknanya adalah kotoran di mata setelah bangun tidur. Namun, orang lain mengatakan rembes adalah dekil.

Namun, Gus An'im, sapaan akrabnya memberikan apresiasi pada sikap Gus Muwafiq yang tidak segan meminta maaf atas perkataan yang dinilai tidak baik.

"Gus Muwafiq sudah minta maaf jika ada kekeliruan. Kesalahan dia, tabayyun. Ada sebagian yang diakui oleh beliau tentang pernyataan yang menurut beliau salah ketika itu. Ada yang beliau anggap pernyataan beliau itu karena perbedaan bahasa saja," kata dia.

Ia mengatakan, faedah dari silaturahim juga cukup banyak, salah satunya bisa menjelaskan masalah. Terlebih lagi, keluarga nahdliyin, pondok pesantren, dimana Gus Muwafiq juga sering memberikan dakwahnya.

Baca juga: Bupati Jembrana mendorong pesantren sebagai laboratorium perdamaian

Pihaknya mengatakan, bagi seorang dai dengan jam dakwah yang cukup banyak, kadang terjadi kontroversi. Misalnya, saat Gus Dur (mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid) pernah dibuly (perundungan) ketika mengucapkan ucapan salam, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh diganti dengan ucapan selamat pagi.

Begitu juga dengan Ketua Umum PBNU KH Sadi Aqil Sirodj yang juga pernah dibuly dengan luar biasa. Dirinya berharap, dengan kejadian tersebut, Gus Muwafiq lebih berhati-hati saat berdakwah.

"Saya kira Kiai Ahmad Muwafiq tetap tegas dan terus melakukan dakwahnya. Mungkin kejadian ini ada introspeksi dan hati-hati dalam memilih bahasa," ujarnya.

Keluarga Pengasuh PP Lirboyo Kediri yang juga anggota DPRD Kota Kediri KH Abdul Mu'id Shohib menambahkan di hadapan pengasuh serta keluarga dari Pesantren Lirboyo Kediri, Gus Muwafiq meminta maaf atas kegaduhan yang bersumber darinya.

"Juga minta maaf ada pilihan kata di salah satu ceramahnya, kemudian disalahpahami. Beliau juga sudah menyatakan itu memang salah dan meminta maaf," ucap dia.

Gus Muid, sapaan akrabnya juga menambahkan, pengasuh Pesantren Lirboyo juga memberikan nasihat pada Gus Muwafiq agar tidak berhenti untuk berdakwah dan terus belajar.

"Kemudian tadi dari masyayikh berikan nasihat ke beliau, agar tidak berhenti dan terus belajar. Dari kaca mata pesantren, masukan untuk beliau kami juga untuk kami semua, para masyayikh memberikan apresiasi untuk Gus Muwafiq mau minta maaf, taubat jika itu dianggap salah," imbuhnya.

Para masyayikh, lanjut dia, berharap kejadian itu sebagai pengalaman dan ketika berdakwah dengan bahasa yang baik, sehingga kejadian tersebut tidak terulang lagi.

"Intinya mendukung untuk terus berdakwah, tidak berhenti berdakwah. Juga imbau warga NU, untuk mendukung dakwahnya Gus Muwafiq, apalagi jika ada yang mengganggu, kami berharap aparat juga menjamin keberlangsungan dakwah Gus Muwafiq, juga keberlangsungan dakwah dai lainnya," ujarnya berharap.

Gus Muwafiq saat hendak dikonfirmasi terkait tujuan datang ke Pesantren Lirboyo Kediri, enggan untuk diwawancara. Gus Muwafiq hanya tersenyum saat ditemui jurnalis.

Dalam kegiatan itu, turut hadir pengasuh Pesantren Lirboyo, antara lain KH Anwar Mansyur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH An'im Falahudin Mahrus, KH Ma'uf Zainudin, KH Abdul Mu'id Shohib, dan dzurriyah lainnya.

Selain bertemu dengan para masyayikh dari Pesantren Lirboyo Kediri, Gus Muwafiq juga berkunjung ke Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, ke KH Ali Masyhuri di Sidoarjo, dan ke PP Langitan, Kabupaten Tuban. Dalam kesempatan tersebut, Gus Muwafiq diantar dari perwakilan PWNU Jatim.

Pewarta: Asmaul Chusna

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019