Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mendiskusikan berbagai hal menyangkut tata kelola festival yang baik dengan melibatkan puluhan sanggar dan komunitas seni di Pulau Dewata.

"Disbud Bali 'kan mengelola sangat banyak 'event' kebudayaan dan seni. Di dalamnya tentu membutuhkan tidak saja pengisi acara tapi juga mereka yang kemudian berpikir komprehensif untuk setiap satuan dari festival itu sendiri," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan "Kun" Adnyana saat membuka workshop seni dengan topik Tata Kelola Festival di Taman Budaya Provinsi Bali, di Denpasar, Selasa.

Kegiatan workshop kali ini dengan menghadirkan narasumber I Wayan Gede Yudana dan Putu Satria Koesuma, lanjut dia, memang sengaja melibatkan perwakilan sanggar, komunitas kelompok seni yang sering mengisi kegiatan Disbud Bali, sehingga dapat memberi masukan terkait tata kelola festival yang baik.

Kun Adnyana menambahkan, kalau dulu pengisi acara membayangkan panggung sudah siap, tinggal tampil, menari atau bermain musik, dan sebagainya. Tetapi, pengisi acara dalam konsep festival itu harus berpikir komprehensif.

"Bagaimana tata panggungnya, kalau di sana sini butuh support lighting, jadi mereka sudah muncul inisiatif. Jadi bagi penampil ingin menimbulkan kesan seperti ini kepada penonton. Harapan atas pesan yang ingin disampaikan itu dia sudah kemudian rencanakan dan realisasikan dalam festival," ucapnya.

Begitu juga pengisi acara mesti aktif untuk mengomunikasikan acara yang akan dia tampilkan, penontonnya siapa, kemudian juga mereka berinisiatif untuk membangun jaringan dan seterusnya.

Kun yang juga akademis ISI Denpasar itu mengharapkan menyatakan peserta workshop yang rata-rata adalah pengisi acara, atau pemilik sanggar, dan komunitas, dapat berpikir komprehensif untuk membangun konsep pentasnya, pamerannya dan keseluruhan berpikir untuk sebuah festival.

Ia menyebut beberapa sanggar memang sudah berpikir ke arah itu. "Misalnya Sanggar Teater Kini Berseri, sudah berpikir komprehensif, kalau butuh lighting dia cari sendiri. Kalau butuh aksen video mapping dia kreasi sendiri. Artinya memang benar-benar pengisi acara memahami kebutuhan pentasnya, penampilannya, pamerannya, itu pengisi acara yang berpikir matang dalam tata kelola festival," ujarnya.

Jadi, kata Kun, tidak lagi merasa hanya tampil dalam suatu festival itu hanya menari saja. Melainkan harus berpikir komprehensif, profesional dalam menata pemahaman manajemennya.

Diskusi yang dimoderatori Warih Wisatsana itu berlangsung hangat, dan memunculkan berbagai gagasan, masukan dan pendapat baik dari narasumber maupun peserta workshop yang sebagian besar merupakan pemilik sanggar maupun komunitas seni di Bali.

Wayan Gede Yudana yang juga seorang komposer memberikan pandanganya terhadap konsep atau tujuan sebuah festival. "Ada tujuh karakteristik festival yang menguraikan tujuan festival , yakni kualitas, inspirasi, aspirasional, inovatif, terlibat, kolaboratif dan khas," ucapnya.

Meskipun indikator kuantitif seperti jumlah kehadiran penonton diperlukan, hal ini tidak boleh menjadi fokus utama dalam menilai keberhasilan festival.

Seharusnya juga sekeranjang indikator kualitatif dan jangka panjang dari dampak festival terhadap dukungan produksi karya berkualitas dan pengembangan artistik, seperti ulasan nasional maupun internasional hingga liputan media.

Pembicara lainnya, Putu Satria seorang seniman teater, mengatakan seharusnya dalam setiap festival apalagi ajang seni modern yang baru kali ini diberikan ruang oleh Pemprov Bali patut diapresiasi.

"Hanya saja, kita memerlukan pencatat yang baik setiap pemanggungan, dalam hal ini ada ulasan dari para pemerhati seni, sehingga ada satu capaian, apakah penampilan para kreator itu baik atau kurang atas sebuah pementasan," ucapnya.

Putu yang pegiat teater itu juga menyoroti proses sajian festival seperti Festival Seni Bali Jani yang perlu memikirkan teknis pementasan, seperti pengaturan jadwal benar-benar diperhatikan sehingga hal hal kecil tidak terlalu mengganggu.

"Selain itu perlunya gladi para penampil sebelum pementasan, supaya penyaji mengetahui kesiapan tata panggungnya dan sebagainya," ujarnya.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019