Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua Prof Dr I Wayan Rai S, MA, meluncurkan buku yang merupakan intisari hasil disertasi sang istri, dalam peringatan dua tahun berpulangnya I Gusti Ayu Srinatih.

"Melalui peringatan ini, kami sebagai keluarga ingin menyampaikan yang dikerjakan Ibu Srinatih selama hidupnya, pikiran-pikirannya, mudah-mudahan ada manfaatnya, sambil mengenangnya yang sudah dua tahun berpulang," kata Prof Rai, disela-sela acara peringatan bertajuk "2 Tahun Nini Ceyi Ngalih Bintang" di Kampus ISI Denpasar, Selasa malam.

Prof Rai berharap semangat dari sang istri yang semasa hidupnya merupakan dosen di ISI Denpasar dan salah satu tokoh seni di Bali itu dapat terus memotivasi generasi muda saat ini untuk tiada hentinya bekerja dan berkarya.

"Ibu (Srinatih-red) sosok orang yang tegas. Bagi anak didiknya, beliau telah meninggalkan kesan untuk terus belajar dan belajar," ucapnya yang juga mantan Rektor ISI Denpasar itu.

Buku berjudul "Representasi Dolanan Mabarong-Barongan, Kabupaten Badung, pada Pesta Kesenian Bali XXXII 2010" yang diluncurkan tersebut diambil dari disertasi Srinatih semasa hidupnya yang menempuh pendidikan S3 Kajian Budaya di Universitas Udayana.

Meskipun merupakan hasil disertasi, buku setebal 208 halaman itu telah diediting sedemikian rupa oleh Prof Rai dengan gaya bahasa yang lebih populer.

Baca juga: Istri Rektor ISBI Papua Dikremasi pada Sabtu (9/9)

Sementara itu, I Gede Agus Jaya Sadguna (anak pertama Prof Rai dengan almarhumah I Gusti Ayu Srinatih) berharap dari acara peringatan berpulangnya sang ibu yang disertai dengan peluncuran buku itu, bisa dipakai teladan bagaimana ke depan kita harus bersungguh-sungguh mengabdi di bidang seni.

"Banyak orang yang mengenal Ibu di dunia seni, tentunya banyak mahasiswa dan murid-muridnya yang memiliki kesan-kesan gaya mengajar Beliau yang begitu meyakinkan bahwa mahasiswa harus bisa," ucapnya pada acara yang dihadiri pimpinan perguruan tinggi se-Bali itu, serta tokoh-tokoh seni dan budaya.

Terkait dengan intisari disertasi mengenai dolanan atau permainan tradisional, sekaligus ingin menyoroti betapa permainan tradisional ini telah semakin sedikit dimainkan oleh anak-anak Bali akibat perkembangan zaman.

Sementara itu, Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha, SSKar, MHum, berharap dari peringatan berpulangnya I Gusti Ayu Srinatih, dapat menjadi pemicu para penekun seni dan juga sivitas akademika setempat untuk terus maju.

"Saya adalah salah satu teman Beliau saat menyelesaikan studi di Kajian Budaya Unud. Saya juga teman diskusi dalam penuangan ide-ide mengenai apa yang akan dibuat dan ditulis dalam disertasi Beliau," ucapnya.

Penulisan topik disertasi dolanan itu muncul, karena melihat fenomena gegendingan (lagu-lagu) dan peplalianan (permainan tradisional) yang mulai tergusur.

"Betapa susahnya saat ini kita bisa menemui anak-anak bermain bersama teman-temannya di saat bulan purnama. Srinatih cermat melihat fenomena itu," ujarnya.

Baca juga: ISBI Tanah Papua Gelar Kegiatan Luar Biasa

Srinatih, lanjut Prof Arya, karena berlatar seniman akademis, kemudian mengkaji gong kebyar anak-anak yang membangkitkan dolanan, serta dicermati dengan ilmu kajian budaya dan kajian seni.

"Begitu pengabdian Ibu Srinatih pada dunia seni dan pendidikan, saya yakin Beliau di sana bahagia melihat kita semua di sini mengenangnya," ucap guru besar seni karawitan itu.

Dalam acara peringatan dua tahun berpulangnya Srinatih, buku intisari disertasi itu diserahkan pada sejumlah pimpinan perguruan tinggi se-Bali, sivitas akademika ISI Denpasar, para sahabat, tokoh-tokoh seni budaya yang menjadi informan dalam penulisan disertasi, bahkan kepada para guru seni tempat Srinatih sedari awal belajar dan menempa bakat seninya, hingga rekan-rekan kuliahnya.

Selain diisi peluncuran buku, acara mengenang pencipta Tari Selat Segara itu juga diisi dengan pameran foto-foto Srinatih semasa hidup di lingkungan seni, akademis, maupun dengan keluarga.

Di akhir acara ditampilkan pergelaran teater yang dipadukan dengan puisi dan lagu yang mengisahkan ekspresi Prof Rai kehilangan pendamping hidupnya, hingga dialog Srinatih dari alam kahyangan yang betapa sangat mencintai sang suami.
Rektor ISBI Tanah Papua Prof Dr I Wayan Rai S, MA beserta keluarga berfoto bersama dengan pimpinan perguruan tinggi, para sahabat dan pengisi acara peringatan berpulangnya dua tahun I Gusti Ayu Srinatih (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2019)
 

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019