Denpasar (Antaranews Bali) - Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar berupaya menjawab tantangan kegelisahan dalam menata karakter bangsa melalui penyelenggaraan seminar nasional bertajuk "Pemajuan Seni untuk Membangun Kebudayaan dan Peradaban yang Berkepribadian".

"Apapun perbincangan tentang peradaban dan kebudayaan seminar kali ini menjadi sangat penting di tengah-tengah kegelisahan bangsa Indonesia dalam menata karakter bangsa ke depan. Dari hasil seminar juga diharapkan mendukung UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan," kata Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan ISI Denpasar Dr Drs I Gusti Ngurah Seramasara MHum saat membuka seminar tersebut, di Denpasar, Selasa.

Pada prinsipnya, Seramasara sangat mengapresiasi seminar tersebut karena dinilai dapat membangun kepekaan intelektual, meningkatkan atmosfer akademik, dan ajang untuk mengadu argumen, baik mengenai substansi, konsep maupun teori.

"Apalagi berbicara mengenai seni, kebudayaan dan peradaban merupakan konsep yang belum final, berbagai definisi muncul untuk memberikan pengertian terhadap seni, kebudayaan dan peradaban. Ada anggapan bahwa seni merupakan bagian integral dari sebuah kebudayaan, sehngga berbicara seni adalah berbicara kebudayaan, apakah berbicara kebudayaan sama dengan berbicara masalah seni memang masih perlu diperbincangkan," ujarnya.

Di samping itu, tambah dia, acuan kebudayaan pada bidang seni telah mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnnya keberadaan seni dalam masyarakat baik sebagai simbol sosial maupun pedoman prilaku yang menawarkan norma dan berbagai nilai kehidupan.

"Pentingnya seni bagi masyarakat, menyebabkan berbagai bidang ilmu mulai melakukan kajian terhadap seni, baik ilmu sosiologi, antropologi, politik, ekonomi dan sejarah. Oleh karena itu, wacana memajukan seni adalah usaha untuk membangun kebudayaan dan peradaban," ucapnya.

Usaha membangun seni, lanjut Seramasara adalah usaha untuk menempa kerangka mental manusia, karena dalam seni ada berbagai gagasan, nilai dan norma yang dapat membentuk kepribadian manusia.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar I Gede Mugi Raharja mengatakan seminar nasional itu ditujukan gar kearifan lokal budaya Nusantara masih tetap eksis menghadapi tantangan zaman.

"Perkembangan peradaban global, dengan budaya kontemporernya, telah menyebabkan sering terjadi apropriasi dalam penciptaan karya seni berupa peminjaman elemen-elemen karya yang telah ada sebelumnya untuk menciptakan karya baru," ujarnya.

Mugi menambahkan, terkait Kegiatan publikasi seminar secara daring (online) dan persyaratan pemakalah pendamping telah dilaksanakan pada 3 Mei 2018. Setelah beberapa abstrak masuk, "reviewer" melakukan seleksi pada 28 Juni, kemudian mengumumkan abstrak yang memenuhi syarat agar pemakalahnya segera mengirim makalah secara lengkap.

"Dari 26 judul makalah pendamping yang masuk, hanya 23 judul makalah yang memenuhi syarat untuk mengikuti kegiatan seminar nasional," ujarnya.

Selanjutnya sejak 31 Juli 2018, pihaknya mulai membuat tata letak prosiding seminar nasional. Oleh karena keterbatasan dana seminar nasional ini, maka panitia bersama tim reviewer menyeleksi kembali judul-judul makalah yang masuk dan hanya memilih 12 makalah pendamping untuk dipresentasikan.

Untuk pembicara utama seminar menghadirkan Prof Dr Yasraf A Piliang yang membawakan makalah berjudul "Seni dan Isu Budaya Kontemporer, Sebuah Pendekatan Kritis", kemudian Prof Dr I Made Gede Arimbawa dengan makalahnya "Idealitas dan Realitas Desain dalam Konteks Artefak Budaya Tradisional", dan Dr Djuli Djatiprabudi yang mempresentasikan makalah "Glokalisasi dan Potensi Tawar Seni Rupa Indonesia".

Sedangkan untuk pembicara pendamping di antaranya dari UGM, ISI Yogyakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Ciputra, Undiksha, Stikom, ISI Denpasar dan sebagainya.

Sedangkan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar Dr Anak Agung Gede Bagus Udayana menambahkan, pihaknya sebagai lembaga pendidikan seni yang mengkonsentrasikan dalam bidang seni dan desain, berkomitmen menyelenggarakan pendidikan yang ideal, yang diharapkan berjalan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berwawasan nilai-nilai budaya bangsa.

"Hal inilah yang menjawab tantangan bahwa seni dan desain adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Dengan seminar ini, kami harap dapat dijadikan wahana oleh para akademisi dan praktisi dalam bertukar pikiran bagaimana membangun kreativitas dan inovasi dalam pemajuan seni rupa," ujarnya.

Selain itu, lanjut Udayana, membangun kebudayaan dan peradaban yang berkepribadian sehingga mampu memanfaatkan segala peluang menghadapi tantangan untuk memenangkan Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Revolusi Industri 4.0.

Udayana mengklaim seminar tersebut sekaligus merupakan seminar satu-satunya di lingkup perguruan tinggi seni di Indonesia yang tidak memungut biaya bagi peserta dan pemakalah. Kami harapkan hal-hal seperti ini juga bisa menular ke kampus-kampus lainnya," katanya. (WDY).

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018