Denpasar (Antara Bali) - Bagian Perekonomian Pemerintah Kota Denpasar menyelenggarakan demo makan daging babi yang dihadiri pejabat kota dan warga masyarakat setempat guna menepis isu menyebarnya bakteri Meningitis Streptococcus Suis (MSS).

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Kota Denpasar Made Saryawan di depan Museum Bali, Jumat mengatakan dengan beredarnya isu MSS di masyarakat setelah diduga mereka mengkonsumsi daging babi berdampak negatif bagi perekonomian.

"Atas arahan Wali Kota Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, kami sudah melakukan berbagai langkah antisipasi dengan mengadakan sosialisasi, pelayanan kesehatan hewan seperti penyemprotan kandang babi dan pengambilan sampel darah hewan peliharaan itu," katanya.

Ia mengatakan langkah yang dilakukan tindak lanjut dari sosialisasi dan melakukan penyemprotan kandang babi, maka pihaknya juga melakukan demo makan babi. Hal itu bertujuan memberikan kepercayaan kepada warga masyarakat bahwa tidak semua babi mengandung bakteri MSS.

Pada demo makan babi tersebut hadir juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) Anak Agung Ngurah Ratmadi, Sekda Kota Denpasar Anak Agung Rai Iswara, serta pejabat OPD lainnya, di antaranya Kepala Dinas Koperasi dan UKM Made Erwin Suryadarma Sena serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Ketut Wisada.

Saryawan lebih lanjut mengatakan tujuan demo makan daging babi tersebut adalah untuk menghilangkan keresahan masyarakat agar tidak takut dan cemas untuk mengkonsumsi daging babi.

"Masyarakat tidak perlu takut dan cemas makan daging babi, asalkan diolah dan dimasak secara matang dan sempurna di atas suhu 56 derajat Celcius selama 30 menit," ucapnya.

Sekda Kota Denpasar Rai Iswara mengatakan isu MSS berdampak besar terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat, maka diperlukan adanya langkah-langkah strategis dan tindakan konkrit dalam menanggulanginya.

"Langkah pertama informasi kepada masyarakat khususnya peternak babi agar menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar. Melapor bila ditemukan gejala klinis pada babi, seperti nafsu makan menurun, kesulitan berjalan, lumpuh dan gejala saraf lainnya," ujarnya.

Rai Iswara menambahkan peternak babi hendaknya tidak menjual atau memotong babi sakit. Masyarakat juga diimbau untuk mengkonsumsi daging sehat dan pastikan masakan daging babi benar- benar matang. Saat mengolah daging babi pastikan tangan tidak luka/tutup luka dengan baik bila mengolah daging .Pengepul juga diimbau tidak membeli dan memotong babi yang sakit.

"Selain langkah antisipasi tersebut, faktor kebersihan perorangan ,tempat pengolahan, alat, dan bahan baku yang diolah juga harus mendapat perhatian. Dan terakhir, menginformasikan kepada masyarakat agar segera melapor ke puskesmas atau rumah sakit, bila mengalami gejala panas, perubahan kesadaran, kuku kuduk dan sakit kepala setelah mengkonsumsi daging babi," katanya. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Komang Suparta

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2017